NEGERI IRONESIA
Di Benua Asial
bagian Timur Selatan, terdapatlah sebuah negeri kepulauan yang sangat
luas, kaya raya, indah dan tanahnya pun sangat subur. Ironesia namanya,
sebuah negeri yang telah membuat banyak petinggi negeri dari berbagai
penjuru dunia jatuh hati dan ingin menguasainya.
...
Semenjak dahulu kala Ironesia sudah menjadi rebutan para imperialis dan
kolonialis dunia. Mereka sangat bernafsu menguasai negeri ini karena
berbagai kekayaan alam dan keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh
negeri lain. Dalam sejarahnya, negeri ini tercatat pernah ratusan tahun
dijajah silih berganti oleh beberapa negeri lainnya seperti Portugis,
Spanyol, Belanda, Inggris dan Jepang.
Menurut buku “Babad Tanah
Ironesia” negeri Ironesia semenjak dahulu dihuni oleh suatu bangsa yang
bernama Ironesia. Bangsa ini sangat unik karena terdiri dari berbagai
suku bangsa dengan latar belakang sosial, budaya, bahasa dan agama yang
beragam. Dikarenakan adanya kesamaan nasib sebagai negeri jajahan dan
kesamaan tujuan untuk menjadi bangsa merdeka yang bebas menentukan masa
depannya sendiri maka berbagai suku bangsa tersebut bergabung dan
melebur menjadi satu bangsa besar yang bernama Ironesia. Sebuah bangsa
besar yang berdiri kokoh siap berjuang bersama dengan semboyan “Banyak
Tetapi Satu Beda Tetapi Sama”.
Demi memperjuangan cita-cita
luhurnya maka para Raja-raja di sekitar wilayah Ironesia secara iklas
dan sukarela melepaskan semua simbol-simbol, kekuasaan, wilayah, sejarah
dan hak ulayat yang melekat dalam dirinya dan menyerahkan semuanya
kepada para pendiri bangsa. Tak hanya itu, merekapun rela mempertaruhkan
nyawa berjuang bersama demi tegaknya harkat dan martabat sebuah bangsa
yang bernama Ironesia.
KETIKA SANG RAJA MENGGUGAT
Sejak proklamasi kemerdekaan hingga beberapa dasawarsa setelahnya
ternyata mimpi keadilan dan kemakmuran sebagaimana yang dicita-citakan
tak jua kunjung dirasakan. Meskipun negeri Ironesia sangat kaya raya dan
memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan negeri lainnya namun
semua kekayaan yang berlimpah itu ternyata tidak serta merta dapat
memakmurkan rakyatnya.
Dengan adanya pengkhianatan terhadap
tujuan awal pendirian bangsa Ironesia, prinsip-prinsip keadilan, etika
dan moral yang menjadi landasan perjuangan maka apa yang dahulu
dicita-citakan sampai sekarang masih tetap menjadi mimpi yang belum
pernah menjadi kenyataan. Mimpi anak-anak bangsa yang masih tetap setia
pada apapun titah para raja junjungannya.
Lihatlah, sekelompok
rakyat negeri Ironesia yang secara turun temurun telah berjuang dan
terlibat langsung dalam perang kemerdekaan, kini mereka hanya mampu diam
termangu di tepi hutan ilalang. Di penghujung usianya para pejuang tua
itupun masih tetap setia menunggu turunnya cahaya pertanda waktu
perubahan tiba. Perubahan bukan untuk dirinya tetapi untuk anak cucu
yang akan ditinggalkannya kelak.
Demikian pula keturunan para
raja yang dahulu telah menyerahkan semua sejarah beserta simbol-simbol,
kekuasaan, wilayah, rakyat dan semua hak ulayat yang dikuasainya. Kini
merekapun hanya bisa pasrah bersimpuh mengelus batu prasasti yang kelak
akan menjadi saksi. Apa yang dirasakan dan yang terjadi sungguh berbeda
dengan mimpi yang diceritakan oleh para pendahulunya. Cerita para
pendiri bangsa Ironesia tentang negeri adil makmur dan sentosa yang
telah ditunggunya selama beberapa generasi, sampai kini tak pernah ada
wujudnya. Semua hanya tinggal cerita tentang cita-cita yang telah
terbang dibawa angin, meninggalkan perasaan berdosa dan hutang janji
kepada rakyatnya yang setia.
Terbelenggu Penjajahan Baru
Tak ada yang lebih menyakitkan dari pengkhianatan yang dilakukan oleh
kawan sejalan, demikianlah yang kini dirasakan oleh para ahli waris
kerajaan beserta rakyatnya terhadap para ahli waris para pendiri bangsa
Ironesia.
Proklamasi kemerdekaan yang dahulu dimaknai bersama
sebagai pintu gerbang menuju kemakmuran sebagaimana sabda pendiri
bangsa, ternyata kini telah berubah menjadi pintu gerbang penjajahan
baru yang terasa lebih menyakitkan. Yah, jauh lebih menyakitkan dari
kolonialisme manapun yang pernah ada di negeri Ironesia!
Dahulu, pada masa kolonial semua rakyat bisa bersatu melawan dan
mengusir penjajah keluar dari negeri ini. Kini perlawanan serupa tidak
mungkin bisa dilakukan lagi karena “penjajah baru” yang sekarang
menjajah adalah merupakan bagian dari bangsa sendiri yang tak mungkin
bisa diusir.
Dahulu mereka mengenal “perang melawan penjajah”,
kalau sekarang mereka melakukan hal yang sama maka sejarah akan
mencatatnya sebagai perbuatan “makar terhadap pemerintahan yang syah”.
Dahulu, saat mereka melakukan pemberontakan terhadap penjajah,
sejarah mencatatnya sebagai “pejuang atau patriot bangsa” dan bila
meninggal merekapun akan mendapat gelar “pahlawan”. Apa yang akan
terjadi bila mereka sekarang melakukan pemberontakan terhadap “penjajah
baru”? Yang pasti, jeratan pasal-pasal makar telah menanti.
Suku-suku Bangsa Ironesia, Antara Ada dan Tiada
Dengan melihat
sistem pemerintahan dan sistem politik yang berlaku di negeri Ironesia
sekarang ini maka sangat jelas terlihat adanya upaya yang sistematis dan
konstitusional untuk menghapuskan sama sekali peran suku bangsa sebagai
suatu entitas di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sistem yang ada sama sekali telah mengabaikan dan tidak memberikan ruang
sedikitpun atas keterwakilan berbagai suku bangsa dalam proses
bernegara dan berbangsa. Sungguh ironis, suku-suku bangsa sebagai tiang
utama yang menyangga keberadaan bangsa Ironesia justru diabaikan oleh
bangsa yang disangganya. Padahal sejatinya ruh bangsa Ironesia adalah
terletak pada keberadaan suku-suku bangsa yang ada di dalamnya dan bukan
keberadaan partai politik yang ada di dalamnya. Bubarnya partai politik
yang ada tidak akan membubarkan bangsa tetapi bubarnya suku-suku bangsa
yang ada dalam tubuh bangsa Ironesia maka hal itu dapat dipastikan akan
membubarkan bangsa Ironesia.
Bukankah kata “banyak” dan “beda”
dalam semboyan “Banyak Tetapi Satu Beda Tetapi Sama” dahulu dimaksudkan
sebagai pernyataan tekad bahwa meskipun banyak dan berbeda-beda suku
bangsa, agama dan budaya tetapi tetap satu bangsa yang sama yaitu
Ironesia? Mengapa “banyak” dan “beda” itu sekarang diubah menjadi banyak
dan beda perihal partai politik? Dengan berbagai kepentingannya,
mungkinkah persatuan diantara berbagai partai politik bisa ada dan
berjalan langgeng ?
Dimanakah puluhan partai politik yang
sekarang menguasai bangsa Ironesia pada masa penjajahan dahulu? Apakah
kontribusi dan peran partai-partai itu dalam pembentukan bangsa
Ironesia? Bukankah ruh bangsa Ironesia adalah suku-suku bangsa yang ada
di dalamnya dan bukan partai-partai itu?
KETIKA KEMERDEKAAN
BERBUAH IRONI
Sungguh malang nasib para Raja beserta seluruh
rakyatnya dan warga suku-suku bangsa pembentuk negeri Ironesia.
Mengharapkan keadilan dan kemakmuran dari negeri yang telah
diperjuangkannya ternyata bagai pungguk merindukan bulan. Kemerdekaan
sebuah bangsa yang telah diperjuangkan dengan segenap jiwa raga ternyata
tak dapat memerdekakan dan merubah hidup Sang Raja beserta rakyatnya.
Tangis penderitaan masih tetap nyaring terdengar sama seperti dahulu
pada waktu masih dijajah bangsa lain. Bedanya, kini semua simbol-simbol,
kekuasaan, wilayah, sejarah dan hak ulayat yang melekat dalam dirinya
selaku Raja telah musnah. Semuanya telah berpindah tangan kepada para
penguasa kerajaan-kerajaan baru yang bernama Partai Politik. Itulah
pengkhianatan terhadap tujuan awal pendirian bangsa Ironesia,
prinsip-prinsip keadilan, etika dan moral yang menjadi landasan
perjuangan dahulu.
*****
Apa yang terjadi di negeri
Ironesia adalah merupakan suatu ironi, kondisi yang sesuai dengan nama
negeri yang disandangnya. Entah disadari atau tidak, para pendiri bangsa
Ironesia telah memberi nama negeri ini dengan nama yang tidak membawa
keberuntungan. Konon nama Ironesia berasal dari kata “ironi” yang
berarti suatu kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang
diharapkan atau yang seharusnya terjadi dan “nesia” yang berasal dari
kata nesos yang dalam bahasa Yunani berarti pulau. Bila kedua kata
tersebut digabungkan maka dapat dimaknai sebagai “pulau-pulau yang tidak
dapat memberikan apa yang seharusnya diberikan sesuai dengan potensi
yang dimilikinya”.Lihat
Selengkapnya
— bersama Hetty
Kesumahati Normansyah dan 8 lainnyaTri Hidayati
Ikhwan
Siddiqi
NinAlit RinduIllahi
Sahara Menanti Kekasih
Mayong
MayLucky
Neneng Nurasiah
Noer Ainie Ainie
Nasriah Merindukan
IbuAyah.
NEGERI IRONESIA
Di Benua Asial bagian Timur Selatan, terdapatlah sebuah negeri kepulauan yang sangat luas, kaya raya, indah dan tanahnya pun sangat subur. Ironesia namanya, sebuah negeri yang telah membuat banyak petinggi negeri dari berbagai penjuru dunia jatuh hati dan ingin menguasainya.
...
Semenjak dahulu kala Ironesia sudah menjadi rebutan para imperialis dan kolonialis dunia. Mereka sangat bernafsu menguasai negeri ini karena berbagai kekayaan alam dan keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh negeri lain. Dalam sejarahnya, negeri ini tercatat pernah ratusan tahun dijajah silih berganti oleh beberapa negeri lainnya seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Jepang.
Menurut buku “Babad Tanah Ironesia” negeri Ironesia semenjak dahulu dihuni oleh suatu bangsa yang bernama Ironesia. Bangsa ini sangat unik karena terdiri dari berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial, budaya, bahasa dan agama yang beragam. Dikarenakan adanya kesamaan nasib sebagai negeri jajahan dan kesamaan tujuan untuk menjadi bangsa merdeka yang bebas menentukan masa depannya sendiri maka berbagai suku bangsa tersebut bergabung dan melebur menjadi satu bangsa besar yang bernama Ironesia. Sebuah bangsa besar yang berdiri kokoh siap berjuang bersama dengan semboyan “Banyak Tetapi Satu Beda Tetapi Sama”.
Demi memperjuangan cita-cita luhurnya maka para Raja-raja di sekitar wilayah Ironesia secara iklas dan sukarela melepaskan semua simbol-simbol, kekuasaan, wilayah, sejarah dan hak ulayat yang melekat dalam dirinya dan menyerahkan semuanya kepada para pendiri bangsa. Tak hanya itu, merekapun rela mempertaruhkan nyawa berjuang bersama demi tegaknya harkat dan martabat sebuah bangsa yang bernama Ironesia.
KETIKA SANG RAJA MENGGUGAT
Sejak proklamasi kemerdekaan hingga beberapa dasawarsa setelahnya ternyata mimpi keadilan dan kemakmuran sebagaimana yang dicita-citakan tak jua kunjung dirasakan. Meskipun negeri Ironesia sangat kaya raya dan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan negeri lainnya namun semua kekayaan yang berlimpah itu ternyata tidak serta merta dapat memakmurkan rakyatnya.
Dengan adanya pengkhianatan terhadap tujuan awal pendirian bangsa Ironesia, prinsip-prinsip keadilan, etika dan moral yang menjadi landasan perjuangan maka apa yang dahulu dicita-citakan sampai sekarang masih tetap menjadi mimpi yang belum pernah menjadi kenyataan. Mimpi anak-anak bangsa yang masih tetap setia pada apapun titah para raja junjungannya.
Lihatlah, sekelompok rakyat negeri Ironesia yang secara turun temurun telah berjuang dan terlibat langsung dalam perang kemerdekaan, kini mereka hanya mampu diam termangu di tepi hutan ilalang. Di penghujung usianya para pejuang tua itupun masih tetap setia menunggu turunnya cahaya pertanda waktu perubahan tiba. Perubahan bukan untuk dirinya tetapi untuk anak cucu yang akan ditinggalkannya kelak.
Demikian pula keturunan para raja yang dahulu telah menyerahkan semua sejarah beserta simbol-simbol, kekuasaan, wilayah, rakyat dan semua hak ulayat yang dikuasainya. Kini merekapun hanya bisa pasrah bersimpuh mengelus batu prasasti yang kelak akan menjadi saksi. Apa yang dirasakan dan yang terjadi sungguh berbeda dengan mimpi yang diceritakan oleh para pendahulunya. Cerita para pendiri bangsa Ironesia tentang negeri adil makmur dan sentosa yang telah ditunggunya selama beberapa generasi, sampai kini tak pernah ada wujudnya. Semua hanya tinggal cerita tentang cita-cita yang telah terbang dibawa angin, meninggalkan perasaan berdosa dan hutang janji kepada rakyatnya yang setia.
Terbelenggu Penjajahan Baru
Tak ada yang lebih menyakitkan dari pengkhianatan yang dilakukan oleh kawan sejalan, demikianlah yang kini dirasakan oleh para ahli waris kerajaan beserta rakyatnya terhadap para ahli waris para pendiri bangsa Ironesia.
Proklamasi kemerdekaan yang dahulu dimaknai bersama sebagai pintu gerbang menuju kemakmuran sebagaimana sabda pendiri bangsa, ternyata kini telah berubah menjadi pintu gerbang penjajahan baru yang terasa lebih menyakitkan. Yah, jauh lebih menyakitkan dari kolonialisme manapun yang pernah ada di negeri Ironesia!
Dahulu, pada masa kolonial semua rakyat bisa bersatu melawan dan mengusir penjajah keluar dari negeri ini. Kini perlawanan serupa tidak mungkin bisa dilakukan lagi karena “penjajah baru” yang sekarang menjajah adalah merupakan bagian dari bangsa sendiri yang tak mungkin bisa diusir.
Dahulu mereka mengenal “perang melawan penjajah”, kalau sekarang mereka melakukan hal yang sama maka sejarah akan mencatatnya sebagai perbuatan “makar terhadap pemerintahan yang syah”.
Dahulu, saat mereka melakukan pemberontakan terhadap penjajah, sejarah mencatatnya sebagai “pejuang atau patriot bangsa” dan bila meninggal merekapun akan mendapat gelar “pahlawan”. Apa yang akan terjadi bila mereka sekarang melakukan pemberontakan terhadap “penjajah baru”? Yang pasti, jeratan pasal-pasal makar telah menanti.
Suku-suku Bangsa Ironesia, Antara Ada dan Tiada
Dengan melihat sistem pemerintahan dan sistem politik yang berlaku di negeri Ironesia sekarang ini maka sangat jelas terlihat adanya upaya yang sistematis dan konstitusional untuk menghapuskan sama sekali peran suku bangsa sebagai suatu entitas di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sistem yang ada sama sekali telah mengabaikan dan tidak memberikan ruang sedikitpun atas keterwakilan berbagai suku bangsa dalam proses bernegara dan berbangsa. Sungguh ironis, suku-suku bangsa sebagai tiang utama yang menyangga keberadaan bangsa Ironesia justru diabaikan oleh bangsa yang disangganya. Padahal sejatinya ruh bangsa Ironesia adalah terletak pada keberadaan suku-suku bangsa yang ada di dalamnya dan bukan keberadaan partai politik yang ada di dalamnya. Bubarnya partai politik yang ada tidak akan membubarkan bangsa tetapi bubarnya suku-suku bangsa yang ada dalam tubuh bangsa Ironesia maka hal itu dapat dipastikan akan membubarkan bangsa Ironesia.
Bukankah kata “banyak” dan “beda” dalam semboyan “Banyak Tetapi Satu Beda Tetapi Sama” dahulu dimaksudkan sebagai pernyataan tekad bahwa meskipun banyak dan berbeda-beda suku bangsa, agama dan budaya tetapi tetap satu bangsa yang sama yaitu Ironesia? Mengapa “banyak” dan “beda” itu sekarang diubah menjadi banyak dan beda perihal partai politik? Dengan berbagai kepentingannya, mungkinkah persatuan diantara berbagai partai politik bisa ada dan berjalan langgeng ?
Dimanakah puluhan partai politik yang sekarang menguasai bangsa Ironesia pada masa penjajahan dahulu? Apakah kontribusi dan peran partai-partai itu dalam pembentukan bangsa Ironesia? Bukankah ruh bangsa Ironesia adalah suku-suku bangsa yang ada di dalamnya dan bukan partai-partai itu?
KETIKA KEMERDEKAAN BERBUAH IRONI
Sungguh malang nasib para Raja beserta seluruh rakyatnya dan warga suku-suku bangsa pembentuk negeri Ironesia. Mengharapkan keadilan dan kemakmuran dari negeri yang telah diperjuangkannya ternyata bagai pungguk merindukan bulan. Kemerdekaan sebuah bangsa yang telah diperjuangkan dengan segenap jiwa raga ternyata tak dapat memerdekakan dan merubah hidup Sang Raja beserta rakyatnya. Tangis penderitaan masih tetap nyaring terdengar sama seperti dahulu pada waktu masih dijajah bangsa lain. Bedanya, kini semua simbol-simbol, kekuasaan, wilayah, sejarah dan hak ulayat yang melekat dalam dirinya selaku Raja telah musnah. Semuanya telah berpindah tangan kepada para penguasa kerajaan-kerajaan baru yang bernama Partai Politik. Itulah pengkhianatan terhadap tujuan awal pendirian bangsa Ironesia, prinsip-prinsip keadilan, etika dan moral yang menjadi landasan perjuangan dahulu.
*****
Apa yang terjadi di negeri Ironesia adalah merupakan suatu ironi, kondisi yang sesuai dengan nama negeri yang disandangnya. Entah disadari atau tidak, para pendiri bangsa Ironesia telah memberi nama negeri ini dengan nama yang tidak membawa keberuntungan. Konon nama Ironesia berasal dari kata “ironi” yang berarti suatu kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi dan “nesia” yang berasal dari kata nesos yang dalam bahasa Yunani berarti pulau. Bila kedua kata tersebut digabungkan maka dapat dimaknai sebagai “pulau-pulau yang tidak dapat memberikan apa yang seharusnya diberikan sesuai dengan potensi yang dimilikinya”.Lihat Selengkapnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar