A.judul Penelitian :
ANALISA RENCANA DAN PELAKSANAAN PEMBelajar SAIN DI SEKOLAH DASAR
B. Latar Belakang Masalah
Untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dibutuhkan pendidikan, karena pendidikan merupakan wahana bagi sumber daya manusia untuk mengembangkan dirinya. Tanpa adanya pendidikan kiranya kita tidak dapat memiliki kualitas sumber daya manusia yang dapat berkompetisi dengan yang lain,sehingga pernanan pendidikan dalam hal ini sangatlah penting dan cukup berarti. Menurut UUSPN (2003,Pasal 1 ayat 1) bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memeiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat,bangsa dan negara. Dalam konteks pendidikan formal kegiatan belajar mengajar merupakan fungsi pokok dan upaya yang paling strategis untuk mewujudkan tujuan institusional yang diemban oleh lembaga tersebut ( Syamsudin,2001:12). Untuk itu pendidikan yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan formal diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam kawasan kognitif, afektif, dan psikomotor. Sehingga pendidikan yang dilaksanakan dapat membuahkan hasil yang terbaik dan dapat meningkatkan prestasi belajar.
Prestasi belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari pelajaran di sekolah yang dinyatakan dengan nilai yang diperoleh dari tes. Seperti yang dikemukakan oleh Surya (1983:115) bahwa”Prestasi belajar dicapai melalui proses belajar disekolah yang dinyatakan dengan nilai-nilai prestasi belajar berdasarkan hasil tes”.
Lancar tidaknya pembelajaran serta Keberhasilan proses belajara mengajar sangat dipengaruhi oleh penyusunan perencanaan pembelajaran dan pelaksanaan rencana pembelajaran perencanan pembelajaran. Sesuai dengan hakikat sain sebagai produk dan proses, maka pembelajaran sain di Sekolah Dasar harus dirancang dengan baik dan dilaksakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan, tetapi dari hasil studi awal masih terdapat ketidak seuaian dalam menyusun perencanaan pembelajaran sain maupun dalam pelaksanaan rencanaan pembelajaran sain. Hal ini yang mengakibatkan terjadinya kekacauan dalan proses pembelajaran dan pembelajara sain menjadi sesuai yang sulit dipahami atau pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa.
Berdasarkan pengamatan penulis, sejumlah fakta yang dapat dilihat pada saat proses pembelajaran berlangsung di beberapa Sekolah Dasar, menunjukkan bahwa Mata Pelajaran Sain sampai saat ini kurang berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa, minat belajar, kreatifitas, dan berpikir kritis di kalangan siswa, hal ini dapat dilihat sebagai berikut:
1. Guru belum dapat merancang pembelajaran sain dengan benar, sehingga pelakasaan menjadi tidak terarah.
2. Guru belum dapat melaksanakan hasil rancangan pembelajaran sain dengan benar, sehingga pelakasaan menjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
3. Pada setiap pembelajaran sain guru sering menggunakan metode Ceramah/ konvensional.
4. Penggunaan media pembelajaran seperti KIT IPA sangat terbatas, sehingga kurang membantu siswa dalam memahami konsep-konsep pembelajaran sain.
5. Siswa masih beranggapan guru sebagai satu-satunya sumber belajar, tampak pada saat pembelajaran siswa hanya menerima apa yang diberikan oleh guru untuk dihafalkan.
Dari kondisi tersebut maka jelaslah bahwa proses pembelajaran tersebut tidak dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu pola pembelajaran sain harus dirancang dengan benar dan dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah ditentukan pada rancangan, dengan tidak mengesampingkan minat dan kebutuhan siswa dalam belajar.
Dari permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang
Analisa Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran Sain Di Sekolah Dasar
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana Guru merancang pembelajaran sain
2. Untuk mengetahui Guru melaksanakan pembelajaran sain.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan guru tidak dapat melaksanakan pembelajaran sain sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut :
1. Seacara prakatis diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran kemampuan guru dalam merancang pembelajaran sain
2. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk memperkaya khasanah ilmu pendidikan
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengambil kebijakan di sekolah dalam menentukan suatu kebijakan yang terkait dengan masalah pendidikan terutama masalah penyusunan dan pelaksanaan pembelajaran sain.
E. Kerangka Berpikir
Agar proses pembelajaran sain dapat terlaksana dengan baik, salah satu yang perlu dibenahi adalah perbaikan kualitas tenaga pengajaratau guru. Para guru paling tidak dapat mengorganisir pengajaran dengan jalan menggunakan teori-teori belajar serta desain pengajaran yang dapat menimbulkan minat dan motivasi anak didik (siswa) dalam belajar mata pelajaran sain.
Berbagai model dapat dikembangkan dalam mengorganisir desain pengajaran, diantaranya desain model pembelajaran menurut Dick and Carrey (1985) ada 10 langkah, sebagai berikut:
1. mengidentifikasi tujuan umum pengajaran;
2. melaksanakan analisis pengajaran;
3. mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa;
4. merumuskan tujuan performansi;
5. mengembangkan butir-butir tes acuan patokan;
6. mengembangkan strategi pengajaran;
7. mengembangkan dan memilih material pengajaran;
8. mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif;
9. merevisi bahan pembelajaran;
10. mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.
Pada dasarnya tidak ada rancangan desain model yang paling ampuh untuk mengembangkan program pembelajaran, karena semuanya bergantung pada pertimbangan pemakai dan si perancang model tersebut. Dari sekian banyak model program pengajaran yang telah dikenal, misalnya model Kemp (1977), model Dick and Carrey (1985), model Briggs (1977), model Gagne (1988), model IDI (1971), model Degeng (1990), dan masih banyak lagi model lainnya pada dasarnya mempunyai ciri-ciri yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada bagian-bagian tertentu saja, yang dimodifikasi oleh penyusun model tersebut, demikian juga dengan model Dick and Carrey memilki desain tersendiri, yang secara umum sebagai berikut:
1. Model Dick and Carrey terdiri atas 10 langkah yang setiap langkahnya sangat jelas maksud dan tujuannya, sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain.
2. Kesepuluh langkahnya menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan langkah yang lainnya. Dengan kata lain, sistemnya sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan yang lainnya.
3. Langkah awal pada model Dick and Carrey adalah mengidentifikasi tujuan pengajaran. Langkah ini sesuai dengan kurikulum di perguruan tinggi maupun di sekolah menengah atau sekolah dasar.
Maksud penggunaan model Dick and Carrey dalam pengembangan mata pelajaran adalah:
1. Pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal-hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pengajaran.
2. Adanya pertautan antara tiap komponen khususnya antara strategi pengajaran dan hasil pengajaran yang dikehendaki.
3. Menerapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.
Maka benang merah dan kerangka penelitian ini adalah sebagai berikut :
![]() |
Keterangan :
X=variable independent
Y=Variabel dependent
F. Anggapan dasar
Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa
1. Lingkungan sekolah dianggap kondusif terhadap peningkatan hasil prestasi belajar siswa.
2. Siswa mengerjakan tes awal dan tes akhir dengan sungguh-sungguh sehingga hasil tes itu mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya.
3. Guru memahami teknik penyusunan rencana pembelajaran sain
G. Hipotesis penelitian
Dalam penelitian ini dapat dibuat hipotesis sebagai berikut
- Terdapat penyimpangan dalam pelaksaan pembelajaran dari rencana pembelajara yang telah ditetapkan.
- Terdapat perbedaan prestasi belajar dalam pembelajaran sain pada siswa dalam yang melaksakan pembelajaran sesuai rencana pembelajar dan pada siswa yang menyimpang dari rencana pembelajaran yang telah ditetapkan.
H. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan atau rencana (planing) adalah hal sering dilakukan ketika akan melakukan sesuatu pekerjaan. Ada beberapa definisi tentang perencanaan yang dirumuskan yang berbeda-beda satu sama lain. Cunningham (1982: 4) misalnya mengemukakan bahwa perencanaan ialah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasikan dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku yang diperlukan dalam batas-batas, yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian. Pengertian perencanaan Pembelajaran menurut Kaufman (1972: 6-8) mengatakan: Perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah dan bernilai, di dalamnya mencakup elemen-elemen:
1. Mengidentifikasi dan mendokumentasikan kebutuhan.
2. Menentukan kebutuhan-kebutuhan yang perlu diprioritaskan.
3. Spesifikasi rinci hasil yang dicapai dari tiap kebutuhan yang diprioritaskan.
4. Identifikasi persyaratan untuk mencapai tiap-tiap pilihan.
5. Sekuensi hasil yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang dirasakan.
6. Identifikasi strategi alternatif yang mungkin dan alat atau tools untuk melengkapi tiap persyaratan dalam mencapai tiap kebutuhan, termasuk di dalamnya merinci keuntungan dan kerugian tiap strategi dan alat yang dipakai.
Dapat dikatakan bahwa, perencanaan berkaitan dengan penentuan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mendahului pelaksanaan, karena perencanaan merupakan suatu proses untuk menentukan ke mana harus pergi dan mengidentifikasi persyaratan yang diperlukan dengan cara yang paling efektif dan efisien. Berpangkal dari pemahaman di atas, maka perencanaan mengandung enam pokok pikiran, yaitu:
1. Perencanaan melibatkan proses penetapan keadaan masa depan yang diinginkan.
2. Keadaan masa yang diinginkan itu kemudian dibandingkan dengan keadaan sekarang, sehingga dapat dilihat kesenjangannya.
3. Untuk menutupi kesenjangan itu perlu dilakukan usaha-usaha.
4. Usaha yang dilakukan untuk menutupi kesenjangan itu dapat beranekaragam dan merupakan alternatif yang mungkin ditempuh.
5. Pemilihan alternatif yang paling baik, dalam arti yang mempunyai efektivitas dan efisiensi yang paling tingi perlu dilakukan.
6. Alternatif yang dipilih harus diperinci sehingga dapat menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan apabila akan dilaksanakan (Depdikbud, 1983/1986: 2)
Sedangkan menurut Banghart dan Albert Trull (dalam Harjanto, 2006: 3) perencanaan Pembelajaran dalam dilihat dari tiga dimensi, yakni karakteristik perencanaan Pembelajaran berusaha menggambarkan sifat-sifat aktivitas perencanaan Pembelajaran. Karakteristik perencanaan Pembelajaran adalah:
1. Merupakan proses rasional, sebab berkaitan dengan tujuan sosial dan konsep-konsepnya dirancang oleh banyak orang.
2. Merupakan konsep dinamik, sehingga dapat dan perlu dimodifikasi jika informasi yang masuk mengharapkan demikian.
3. Perencanaan terdiri dari beberapa aktivitas, aktivitas itu banyak ragamnya, namun dapat dikategorikan menjadi prosedur-prosedur dan pengarahan.
4. Perencanaan Pembelajaran berkaitan dengan pemilihan sumber dana, sehingga harus mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah penggunaan, dan salah dalam manajemnnya.
Definisi lain mengemukakan bahwa perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada sekarang (what is) dengan bagaimana seharusnya (what should be) yang bertalian dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program, dan alokasi sumber. (Arthur W. Steller, 1983: 68).
Perencanaan Pembelajaran di Indonesia merupakan suatu proses penyusunan alternatif kebijaksanaan mengatasi masalah yang akan dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan pendidikan nasional dengan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang adadi bidang sosial ekonomi, sosial budaya, dan kebutuhan pembangunan secara menyeluruh terhadap pendidikan nasional. Definisi ini memeperlihatkan suatu tanggung jawab pendidikan yang besar sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa. (Jusuf Enoch, 1992: 4).
2. Pembelajaran Sebagai Sistem
Di dalam kegiatan sehari-hari kita sering mendengar dan mengucapkan kata “sistem”. Sebagai suatu sistem, proses belajar itu saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan ingin dicapainya (Munandir, 1987).
Untuk memahami arti “sistem” kita perlu mengetahui pengertian dari “sistem” itu sendiri. Sistem merupakan suatu gabungan dari komponen-komponen yang terorganisir sebagai suatu kesatuan, dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Istilah-istilah yang berhubungan dengan sistem diantaranya:
Supra sistem, yaitu suatu yang kmpleks yang mencakup lebih dari satu sistem sebagai komponennya.
Subsistem, yaitu suatu kesatuan atau kumpulan kesatuan yang merupakan bagian dari suatu sistem yang lebih besar yang bisa dibedakan dengan maksud untuk keperluan observasi atau mempelajarinya.
Sistem terbuka, yaitu suatu sistem yang dapat menerima input misalnya berupa informasi dari luar sistem tersebut.
Sistem tertutup, yaitu suatu sistem yang tertutup untuk menerima input informasi yang datang dari luar.
Feedback (umpan balik), yaitu informasi yang diperoleh dari hasli pelaksanaan sebelumnya yang berguna untuk perbaikan. Informasi ini berlangsung terus-menerus sepanjang proses berjalan.
Hierarchy, yaitu sekelompok orang atau kegiatan yang diatur secara bertingkat, grup, atau kelas.
Input (masukan), yaitu unsur-unsur yang sumber-sumbernya diterapkan atau dimanfaatkan.
Output (keluaran), yaitu hasil konversi dari proses suatu sistem yang dihitung sebagai hasil, produk, atau keuntungan.
Proses, yaitu penerapan suatu cara dan sarana untuk mencapai suatu hasil produk.
Produk, yaitu hasil atau produk akhir.
System approach (pendekatan sistem), suatu proses yang dengan kebutuhan diidentifikasi, problem dipilih, syarat-syarat pemecahan problem diidentifikasi, pemecahan dipilih dari beberapa alternatif, metode dan alat dicari dan diterapkan, hasil dievaluasi, dan revisi yang diperlukan terhadap seluruh bagian dari sistem tersebut dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga kebutuhan tersebut dapat tercapai.
Dengan memahami arti istilah-istilah tersebut di atas, maka pengertian sistem secara lebih mendalam dapat dicapai, misalnya tentang definisi, unsur, sifat, tingkat dan kegunaannya dalam penyusunan planning.
1. Definisi sistem
Suatu “sistem” adalah merupakan jumlah keseluruhan dari bagian-bagiannya yang saling bekerja bersama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan atas kebutuhan yang telah ditentukan. Setiap “sistem” pasti mempunyai tujuan, dan semua kegiatan dari komponen-komponen adalah diarahkan untuk menuju tercapainya tujuan tersebut.
2. Unsur-unsur suatu sistem
a. Input (masukan), misalnya: sumber, biaya, personal.
b. Output (keluaran), misalnya: hasil, produk, atau keuntungan.
3. Sifat-sifat suatu sistem
a. Terbuka dan tertutup
Terbuka berarti menerima informasi dari luar, tertutup berarti tidak menerima informasi dari luar.
b. Sederhana dan kompleks
1) Sederhana:
a) Hanya terdiri atas beberapa komponen.
b) Hasil/produknya mungkin sederhana, hasilnya sama untuk sepanjang waktu, misalnya hasil cetakan bata.
2) Kompleks (rumit):
a) Terdiri banyak komponen yang saling berinteraksi.
b) Keseluruhannya (totalitasnya) lebih dari sekedar jumlah dari bagian-bagian
c) Bagian-bagiannya tidak dapat dipahami kalau berdiri terpisah satu sama lain.
d) Bagian-bagiannya saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain.
c. Hidup dan tak hidup
Sistem yang hidup misalnya, sel manusia, tanaman,. Sistem yang mati misalnya, tata surya, komputer.
d. Susunan vertikal (hierarchy)
Suatu sistem selalu berkaitan erat sedangkan sistem yang lain. Susunan hierarki terjadi bila sistem pada tingkat bawah bergabung membentuk sistem yang lebih tinggi. Adapun tingkatannya adalah: supra sistem, sistem, dan subsistem.
4. Kegunaan mempelajari sistem.
Pengetahuan tentang sistem sangat berguna untuk penyusunan perencanaan (planning). Planning adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. (Elly, 1979: 7).
Untuk mencapai suatu hasil adalah berbagai alternatif. Ketika menyusun perencanaan, tentu akan memilih cara yang terbaik menurut pertimbangan dan penilaian. Juga memperhatikan faktor-faktor lain yang penting dalam pembiatan keputusan, faktor-faktor tersebut misalnya waktu dan biaya.
Dengan demikian dapat dikemukakan pentingnya perencanaan (planning) secara sistematis adalah:
a. Untuk pengganti keberhasilan yang diperoleh secara untung-untungan atau nasib mujur (good luck)
b. Sebagai alat untuk menemukan dan memecahkan msalah.
c. Untuk memanfaatkan sumber secara efektif (tepat guna).
5. Keuntungan adanya suatu perencanaan
a. Dengan adanya suatu perencanaan, dapat memberikan alat untuk menganalisa, mengidentifikasi, dan memecahkan masalah sesuatu yang diinginkan, dengan menggunakan perencanaan yang sistematis.
b. Suatu perencanaan yang sistematis mempunyai daya ramal dan kontrol yang baik, proses ini akan berjalan baik manakala:
1) Merumuskan secara spesifik dan nyata akan kebutuhan (need assissment).
2) Menggunakan logika, proses setapak demi setapak, untuk menuju perubahan yang diharapkan.
3) Memperhatikan berbagai macam pendekatan dan memilih yang sesuai dengan situasi dan kondisi.
4) Menetapkan mekanisme “feedback” yang memberitahukan kemajuan kita, identifikasi hambatan-hambatan dan menunjukan perubahan-perubahan yang diperlukan.
5) Menggunakan istilah dan langkah yang jelas, mudah dikomunikasikan dan dipahami orang lain.
3. Komponen-komponen Pembelajaran
Merencanakan pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari komponen (variabel) pembelajaran. Simon (1969) mengklasifikasikan variabel pembelajaran menjadi 3 (tiga), yaitu: 1) alternative goals requirements, 2) possibilities for action, dan 3) fixed farameters or contraints.
Kalsifikasi lain dikemukakan oleh Glaser (1965) yang disebutnya sebagai empat components of a psychology of instruction, yaitu: 1) Analisis di bidang studi, 2) diagnosis kemampuan awal siswa, 3) proses pembelajaran, 4) pengukuran hasil belajar.
Sedangkan Reigeluth (1977: 15) memperkenalkan 4 (empat) variabel yang menjadi titik perhatian ilmuan pembelajaran, yaitu: 1) kondisi pembelajaran, 2) bidang studi, 3) strategi pembelajaran, dan 4) hasil pembelajaran. Yang termasuk kondisi pembelajaran adalah karakteristik siswa, karakteristik lingkungan pembelajaran, dan tujuan institusional. Variabel bidang studi mencvakup karakteristik isi/tugas. Variabel strategi pembelajaran mencakup strategi penyajian isi bidang studi, dan pengelolaan pembelajaran. Variabel hasil pembelajaran mencakup semua efek yang dihasilkan dari pembelajaran, apakah itu dari diri siswa, lembaga, juga masyarakat.
Pada tahun 1978 kalsivikasi variabel pembelajaran dimodifikasi oleh Reigeluth dan Meril (1978: 57-70) menjadi tiga variabel, yaitu:
1. Variabel kondisi pembelajaran
Faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran.
2. Variabel metode pembelajaran
Cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda
3. Variabel hasil pembelajaran
Semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari pengunaan metode pembelajaran di bawah kondisi yang berbeda. Hasil pembelajaran dapat berupa hasil nyata (actual outcomes) dan hasil yang diinginkan (desired outcomes).
a. Metode Pembelajaran
Variabel metode pembelajaran diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:
1. Strategi pengorganisasian (organizational strategy)
Metode untuk mengorganisasi isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran. Meliputi pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format dan lainnya yang setingkat dengan itu.
Strategi pengorganisasian dibedakan menjadi dua jenis, yaitu strategi mikro dan strategi makro. Strategi mikro mengacu kepada metode untuk pengorganisasian isi pembelajaran yang berkisar pada satu konsep, atau prsedur, atau prinsip. Strategi makro mengacu kepada metode untuk pengorganisasian isi pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu konsep atau prosedur, atau prinsip.
2. Strategi penyampaian (delivery strategy)
Metode untuk menyampaikan pembelajaran kepada siswa dan/atau untuk menerima serta merespons masukan yang berasal dari siswa. Media pembelajaran merupakan bidang kajian utama dari strategi ini.
3. Strategi pengelolaan (management strategy)
Metode untuk menata interaksi antara si belajar dan variabel metode pembelajaran lainnya, variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran.
b. Kondisi Pembelajaran
Kondisi pembelajaran mempengaruhi terhadap penggunaan variabel metode. Reigeluth dan Merril (1979: 13) mengelompokan variabel kondisi pembelajaran menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Tujuan dan karakteristik bidang studi (pembelajaran)
Tujuan pembelajaran adalah pernyataan tentang hasil pembelajaran apa yang diharapkan.
2. Kendala dan karakteristik bidang studi
Karakteristik bidang studi adalah suatu bidang studi yang dapat memberikan landasan yang berguna dalam mendeskripsikan strategi pembelajaran.
3. Karakteristik si belajar (siswa)
Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa seperti bakat, motivasi, dan hasil belajar yang telah dimilikinya.
c. Hasil Pembelajaran
Hasil pembelajaran diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
1. Keefektifan (effectiveness)
Diukur dengan tingkat pencapaian siswa. Ada 4 (empat) aspek untuk mendeskripsikan keefektipab pembelajaran, yaitu:
a. kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari
b. kecepatan unjuk kerja
c. tingkat alih belajar
d. tingkat retensi dari apa yang dipelajari.
2. Efisiensi (efficiency)
Biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai siswa dan/atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan.
3. Daya tarik (appeal)
Diukur dengan mengamati kecenderungan siswa untuk tetap belajar.
4. Langkah-langkah Mendesain Pembelajaran
Agar proses pengajaran suatu mata pelajaran dapat terlaksana dengan baik, salah satu yang perlu dibenahi adalah perbaikan kualitas tenaga pengajarnya. Para guru paling tidak dapat mengorganisir pengajaran dengan jalan menggunakan teori-teori belajar serta desain pengajaran yang dapat menimbulkan minat dan motivasi anak didik (siswa) dalam belajar mata pelajaran tersebut.
Berbagai model dapat dikembangkan dalam mengorganisir desain pengajaran, diantaranya desain model pembelajaran menurut Dick and Carrey (1985) ada 10 langkah, sebagai berikut:
a) mengidentifikasi tujuan umum pengajaran;
b) melaksanakan analisis pengajaran;
c) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa;
d) merumuskan tujuan performansi;
e) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan;
f) mengembangkan strategi pengajaran;
g) mengembangkan dan memilih material pengajaran;
h) mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif;
i) merevisi bahan pembelajaran;
j) mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.
Berikut langkah-langkah yang ditetapkan dalam model Dick and Carrey:
a) Mengidentifikasi tujuan umum pengajaran
Sasaran akhir dari suatu program pembelajaran adalah tercapainya tujuan umum pembelajaran tersebut. Dick and Carrey (1985) menjelaskan bahwa tujuan pengajaran adalah menentukan apa yang dapat dilakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan dengan jelas dan spesifik akan memberikan dampak kepada:
a. siswa untuk dapat mengatur waktu, dan pemusatan perhatian pada tujuan yang ingin dicapai;
b. guru untuk dapat mengatur kegiatan intruksional, metode, dan strategi dalam mencapai tujuan tersebut;
c. evaluator untuk dapat menyusun tes sesuai dengan apa yang harus dicapai oleh anak didiks. (Depdikbud, 1982: 9).
b) Melaksanakan analisis Pembelajaran
Dengan analisis pembelajaran ini akan diidentifikasi keterampilan-keteram-pilan bawahan (subordinate skills). Analisis pembelajaran adalah prasyarat dari keseluruhan desain pembelajaran, sehingga analisis ini acuan dasar dalam melanjutkan langkah desain berikutnya.
Dick and Carrey (1985) mengatakan tujuan pengajaran yang telah ditentukan perlu dianalisis untuk mengenali keterampilan-keterampilan bawahan. Gagne, Brigs, dan Wager (1998) mengatakan analisis pembelajaran adalah untuk menentukan keterampilan-keterampilan yang akan dijangkau oleh tujuan pembelajaran, serta memungkinkan untuk membuat keputusan yang diperlukan dalam urutan mengajar. Sedangkan Atwi Suparman (1991) mengatakan analisis intruksional adalah proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logik dan sistematis. Dengan melakukan analisis pembelajaran ini, akan tergambar susunan perilaku khusus yang paling awal sampai yang paling akhir.
c) Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas perseorangan untuk dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran. Aspek yang diungkap bisa berupa bakat, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir, minat, atau kemampuan awal.
d) Merumuskan tujuan performansi
Menurut Dick and Carrey dalam Uno (2006) tujuan performansi terdiri atas:
1) tujuan harus menguraikan apa yang dapat dikerjakan atau diperbuat oleh anak didik;
2) menebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat, yang hadir pada waktu anak didik berbuat;
3) menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksud pada tujuan.
Sedangkan Gagne, Brigs, dan Wager (1998) menjelaskan fungsi performansi objektif adalah:
1) menyediakan suatu sarana dalam kaitannya dengan pembelajaran untuk mencapai tujuan;
2) menyediakan suatu sarana berdasarkan suatu kondisi belajar yang sesuai;
3) memberikan arah dalam mengembangkan pengukuran atau penilaian;
4) membantu anak didik dalam usaha belajarnya.
e) Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan
Tes acuan terdiri atas soal-soal yang secara langsung mengukur istilah patokan yang dideskripsikan dalam suatu perangkap tujuan khusus. Hasil tes tersebut berguna untuk:
1) mendiagnosis dan menempatkannya dalam kurikulum;
2) mencek hasil belajar dan menenmukan kesalahan pengertian, sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan;
3) menjadi dokumen kemajuan belajar.
Dick and Carrey (1985) merekomedasikan 4 (empat) macam tes acuan patokan, yaitu:
1) Test entry behaviors, merupakan tes acuan patokan untuk mengukur keterampilan sebagaimana adanya pada permulaan pembelajaran,
2) Pretest, ini dilakukan bukan untuk nilai akhir (perolehan belajar) tetapi lebih kepada mengenal profil siswa berkenaan dengan analisis pembelajaran.
3) Tes sisipan, berfungsi juga sebagai remedial (perbaikan)
4) Postest atau pascates, merupakan tes acuan patokan yang mencakup seluruh tujuan pembelajaran yang mencerminkan tingkat perolehan belajar.
f) Mengembangkan strategi pembelajaran
Material pembelajaran yang dikembangkan dimaksudkan untuk membantu siswa agar memperoleh kemudahan dalam belajar, sehingga pengembangan materinya harus berdasarkan pada karakteristik siswa itu sendiri.
Komponen strategi pembelajaran terdiri atas:
1) kegiatan pra-pembelajaran
2) penyajian informasi
3) peran serta anak didik
4) pengetesan
5) kegiatan tindak lanjut
g) Mengembangkan dan memilih material pengajaran
Ada tiga pola dalam merancang pembelajaran, yaitu:
1) Pengajar merancang bahan pembelajaran individual, semua tahap pembelajaran dimasukan ke dalam bahan, kecuali prates dan pascates.
2) Pengajar meilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan strategi pembelajaran.
3) Pengajar tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut strategi pembelajaran yang telah disusun.
h) Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
Evaluasi merupakan salah satu langkah dalam mengembangkan desain pembelajaran yang berfungsi untuk mengumpulkan data dalam perbaikan pembelajaran. Ada tiga fase pokok penilaian formatif, yaitu: 1) fase perseorangan atau fase klinis, 2) fase kelompok kecil (8 – 10 orang), 3) fase uji lapangan.
i) Merevisi bahan pembelajaran
Untuk menyempurnakan bahan pembelajaran agar lebih menarik, efektif dan memudahkan dalam pencapaian tujuan pembelajaran, maka perlu adanya tindakan merevisi bahan pembelajaran. Dick and Carrey (1985) mengemukakan dua revisi yang perlu dipertimbangkan, yaitu: 1) revisi terhadap isi atau substansi bahan pembelajaran agar lebih cermat sebagai alat belajar, 2) revisi terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran.
j) Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif
Melalui evaluasi sumatif dapat ditetapkanat diberikan nilai apakah suatu desain pembelajaran, di mana dasar keputusan penilaian didasarkan pada keefektifan dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar. Apabila tujuan sudah dapat dicapai, efektifitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam mata pelajaran tertentu dianggap berhasil dengan baik. Demikian pula jika keberhasilan siswa dicapai dalam rentangan waktu yang relatif pendek, maka dari segi efisiensi pembelajaran dapat dicapai. Dan terakhir, jika dengan rancangan pembelajaran ini mungkin dengan memberlakukan strategi yang baik, aktifitas belajar siswa meningkta maka dari segi keberhasilan pada daya tarik pengajaran dapat dicapai.
Menyusun Tujuan dan Startegi Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbang-kan dalam merencanakan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini bukan saja memperjelas arah yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran, namun dari segi efisiensi dan efektifitas diperoleh hasil yang maksimal. Tujuan pembelajaran menurut Robert F. Mager (1962) adalah sebagai perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Sedangkan menurut Edwar L. Dejnozka dan David E. Kapel (1981), juga Kemp (1977) memandang bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Definisi lain dikemukakan oleh Fred Percival dan Henry Ellington (1984) tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang jelas dan menunjukan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.
Keuntungan penuangan tujuan pembelajaran adalah:
a. Waktu belajar dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara tepat.
b. Pokok bahasan dapat dibuat seimbang.
c. Guru dapat menentukan banyaknya materi pada setiap pembelajaran.
d. Guru dapat menetapkan urutan dan rangkaian mata pelajaran.
e. Guru dapat mempersiapkan strategi belajar yang cocok.
f. Guru dapat mempersiapkan media atau alat pembelajaran.
g. Guru dapat mengukur keberhasila belajar siswa.
h. Hasil belajar dijamin akan lebih baik daripada yang tanpa tujuan pembelajaran yang jelas.
Tujuan pembelajaran biasanya diarahkan pada salah satu dari taksonomi. Benyamin S. Bloom dan D. Krathwohl (1964) memilih taksonomi dalam tiga kawasan, yaitu Kognitif, Afektif, dan Psikomotor.
1. Kawasan Kognitif
Adalah kawasan yang membahas tujuan pembelajaran dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi. Kawsan kognitif terdiri dari 6 (enam) yaitu: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (applica-tion), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).
2. Kawasan Afektif (sikap dan perilaku)
Adalah satu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai inters, apresiasi (penghargaan) dan penyesuaian perasaan sosial. Kawasan afektif terdiri dari 5 (lima) yaitu: 1) kemauan menerima, 2) kemauan menanggapi, 3) berkeyakinan, 4) penerapan karya, dan 5) ketekunan dan ketelitian.
3. Kawasan Psikomotor
Kawasan psikomotor mencakup tujuan yang berkaitan dengan keterampilan (skill) yang bersifat manual dan atau motorik. Bagian dari kawasan psikomotor adalah: persepsi, kesiapan melakukan suatu kegiatan, mekanisme, respons terbimbing, kemahiran, adaptasi, dan originasi.
Mager (1975) memeberikan masukan, bahwa dalam menyusun tujuan pembelajaran sebaiknya mencakup tiga elemen utama, yaitu:
- menyatakan apa yang seharusnya dapat dikerjakan oleh siswa selama belajar dan kemampuan apa yang perlu dikuasai pada akhir pelajaran,
- perlu donyatakan kondisi dan hambatan yang ada pada saat mendemons-trasikan perilaku tersebut,
- perlu ada petunjuk yang jelas tentang standar penampilan minimum yang dapat diterima.
Berdasarkan hal di atas, tujuan pembelajaran sebaiknya dinyatakan dalam bentuk format ABCD;
A = Audience, (petatar, siswa, mahasiswa, murid, sasaran didik)
B = Behavior, (perilaku yang dapat diamati sebagai hasil belajar)
C = Condition, (persyaratan yang perlu agar perilaku yang diharapkan tercapai)
D = Degree, (tingkat penampilan yang dapat diterima)
Tujuan pembelajaran merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini bukan saja memperjelas arah yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran, namun dari segi efisiensi dan efektifitas diperoleh hasil yang maksimal. Tujuan pembelajaran menurut Robert F. Mager (1962) adalah sebagai perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Sedangkan menurut Edwar L. Dejnozka dan David E. Kapel (1981), juga Kemp (1977) memandang bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Definisi lain dikemukakan oleh Fred Percival dan Henry Ellington (1984) tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang jelas dan menunjukan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.
Keuntungan penuangan tujuan pembelajaran adalah:
1) Waktu belajar dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara tepat.
2) Pokok bahasan dapat dibuat seimbang.
3) Guru dapat menentukan banyaknya materi pada setiap pembelajaran.
4) Guru dapat menetapkan urutan dan rangkaian mata pelajaran.
5) Guru dapat mempersiapkan strategi belajar yang cocok.
6) Guru dapat mempersiapkan media atau alat pembelajaran.
7) Guru dapat mengukur keberhasila belajar siswa.
8) Hasil belajar dijamin akan lebih baik daripada yang tanpa tujuan pembelajaran yang jelas.
5. Faktor-faktor yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Merancang Pembelajaran
a. Karakteristik Siswa Dalam Pembelajaran
Untuk menganalisis desain pesan dan karakteristik siswa, ada tiga variabel.
Ketiga variabel tersebut yaitu:
1) kondisi pengajaran,
2) metode pengajaran, dan
3) hasil pengajaran.
Kondisi pengajaran adalah faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkartkan hasil pengajaran, dan metode pengajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pengajaran yang berada di bawah kondisi berbeda. Adapun hasil pengajaran adalah semua efek yang dapat dijadikan indikator tentang nilai dan dari penggunaan metode pengajaran di bawah kondisi yang berbeda.
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa karakteristik siswa merupakan salah satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel ini didefinisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa. Aspek-aspek ini bisa berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir, dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilkinya. Karakteristik siswa akan amat berpengaruh dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran, agar sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa.
Suatu teori pengajaran dapat dikatakan konprehensip apabila berurusan dengan bagai mana cara mengoptimalkan proses-proses internal ketika seseorang belajar: perolehan, pengorganisasian, serta pengungkapan kembali pengetahuan baru. Pada awal tahun 1960-an, Ausubel mengemukakan bahwa untuk mengoptimalkan perolehan, pengorganisasian, serta pengungkapan pengetahuan baru dapat dilakukan dengan membuat pengetahuan baru itu bermakna bagi si belajar, dan telah diterima secara luas oleh pengembang teori pengajaran, bahwa ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pada pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Berpijak pada hasil pemikiran Ausubel ini, banyak orang pada masa sekarang ini telah secara keliru mengartikan bahwa untuk “membuat pengetahuan baru bermakna“ hanya dapat dilakukan dengan mengaitkannya dengan pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (superordinate knowledge) yang telah dimiliki oleh si belajar.
Reigeluth dalam Uno (2006) mengidentifikasi tujuh jenis kemampuan awal yang dapat dipakai untuk memudahkan perolehkan, pengorganisasian, dan pengungkapan kembali pengatahuan baru. Ketujuh jenis kemampuan ini adalah:
1. Pengetahuan bermakna tidak terorganisasi (arbitrarily meaningful knowledge), sebagai tempat mengautkan pengetahuan hapalan untuk memudahkan retensi.
2. Pengetahuan analogis (analogic knowledge), yang mengaitkam pengetahuan baru dengan pengetahuan lain yang amat serupa, yang berada di luar isi yang sedang dibicarakan.
3. Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (superordinate knowledge), yang dapat berfngsi sebagai kerangka cantolan bagi pengetahuan baru.
4. Pengetahuan setingkat (coordinat knowledge) yang dapat memenuhi fungsinya sebagai pengetahuan asosiatif dan komparatif.
5. Pengetahuan tingkat lebih rendah (subrordinate knowledge), yang berfungsi untuk mengkonkritkan pengetahuan baru atau juga penyediaan contoh-contoh.
6. Pengetahuan pengalaman (experiential knowledge) yang memiliki fungsi sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah, yaitu untuk mengkonkritkan dan menyediakan contoh-contoh.
7. Strategi kognitif (cognitive strategy), yang menyediakan cara-cara mengolah pengetahuan baru, mulai dari penyandian, penyimpanan, sampai pada pengungkapan kembali pengetahuan yang telah tersimpan dalam ingatan.
b. Emosional Siswa Dalam Pembelajaran
Kecerdasan emosional adalah suatu cara baru untuk membesarkan anak. Mempelajari perkembangan kepribadian anak intelegence quotient (IQ) merupakan salah satu alat yang banyak digunakan untuk mengetahuinya. Namun belakangan berkembang suatu alat yang disebut emotional quotient (EQ) yang oleh para pakar dianggap sebagai salah satu alat yang baik untuk mengukur kecerdasan emosional anak. Menurut Lawrence Shapiro (1997) kecerdasan emosional anak dapat dilihat pada, 1) keuletan, 2) optimisme, 3) motivasi diri, dan 4) antusiasme. Lebih lanjut Lawrence Shapiro (1997) mengemukakan kecerdasan emosional (IQ) pengukurannya bukan didasarkan pada kepintaran seseorang anak, tetapi melalui suatu yang disebut dengan karakteristik pribadi atau “karakter”.
Berbagai penelitian menemukan keterampilan sosial dan emosional akan semakin penting perannya dalam kehidupan daripada kemampuan intelektual. Atau dengan kata lain memiliki EQ tinggi mungkin lebih penting dalam pencapaian keberhasilan ketimbang IQ tinggi yang diukur berdasarkan uji standar terhadap kecerdasan kognitif verbal dan nonverbal.
Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshare untuk menerangkan kualita emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas ini antara lain adalah: 1) empati, 2) mengungkapkan dan memahami perasaan, 3) mengendalikan amarah, 4) kemandirian, 5) kemampuan menyesuaikan diri, 6) diskusi, 7) kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, 8) ketekunan, 9) kesetiakawanan, 10) keramahan, dan 11) sikap hormat.
Berbagai penelitian ntelah menunjukan bahwa keterampilan EQ yang sama dapat membuat anak atau siswa bersemangat tinggi dalam belajar, dan anak yang memiliki EQ yang tinggi disukai oleh teman-temannya di arena bermain juga akan membantunya 20 tahun kemudian ketika sudah masuk ke dunia kerja atau ketika sudah berkeluarga. Para peneliti mempelajari pola E-mail yang dibuat oleh semua ilmuan itu, dan menemukan bahwa ilmuan-ilmuan yang tidak disukai karena rendahnya keterampilan emosional dan sosialnya cenderung disisihkan oleh rekan-rekannya.
Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Idealnya, seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif (IQ) sekaligus keterampilan sosional dan emosional (EQ), sebagaimana ditujukan oleh negarawan besar dunia. Menurut pakar ilmu politik di Duke University, James David Barber, Thomas Jefferson memiliki perpadauan antara kepribadian dan intelektualitas yang nyaris sempurna. Ia dikenal sebagai komunikator yang hebat dan penuh empati, selain sebagai seorang jenius sejati. Pada tokoh besar lain, EQ yang tinggi tampaknya sudah cukup. Banyak orang berpendapat bahwa kepribadian Franklin Delano Roosevelt yang dinamis dan optimisme yang luar biasa merupakan faktor paling penting dalam memimpin Amerika mengatasi masa-masa kritis zaman depresi dan Perang Dunia II.
Penelitian ilmiah tentang moralitas anak mempunayi potensi besar untuk membantu dalam upaya memperbaiki nilai-nilai moral anak. Namun, ini potensi yang belum dimanfaatkan karena kebnayakan penelitian belum banyak diketahui oleh umum, diabaikan sebagai sesuatu yang tidak relevan, atau dianggap omong kosong belaka. William Damon, seorang Profesor Amerika dalam perkembangan moral anak-anak dan remaja menyatakan anak-anak harus mendapatkan keterampilan emosional sebagai berikut:
1. mereka harus mengikuti dan memahami perbedaan antara perilaku yang baik dan buruk serta mengembangkan kebiasaan dalam hal perbuatan yang konsisten dengan sesuatu yang diangap baik.
2. mereka harus mengembangkan kepedulian, perhatian, dan rasa tanggung jawab atas kesejahteraan dan hak-hak orang lain, yang diungkapkan melalui sikap peduli, dermawan, ramah, dan pemaap.
3. mereka harus merasakan reaksi emosi negatif seperti malu, bersalah, marah, takut, dan rendah diri bila melangar aturan moral.
Menurut Wiliam Damon, perkembangan moral anak tidak dapat dipisahkan dengan emosi seseorang. Ada dua kelompok emosi, yaitu 1) emosi negatif dan 2) emosi positif. Emosi negatif sifatnya dapat memotivasi anak-anak untuk belajar dan mempraktekan perilaku prososial, termasuk takut hukum, kekahawatiran tidak diterima oleh orang lain, rasa bersalah bila gagal memenuhi harapan seseorang, malu bila ketahuan berbuat sesuatu yang tidak dapat diterima oleh orang lain. Sementara emosi positif akan membentuk moral anak adalah empati dan naluri pengasuhan, yang meliputi kemampuan untuk menyayangi. Dalam kehidupan sehari-hari faktor emosi anak dapat digunakan sebabagai bahan pertimbangan mencerdaskan anak di lingkungan keluarga.
6. Merancang Evaluasi Pembelajaran
Seringkali dalam proses pembelajaran itu aspek evaluasi hasil belajar kerap terabaikan. Dosen, guru, atau instruktur terlalu memperhatikan pada materi pelajaran saja. Pembelajaran berjalan baik, namun terkadang penyusunan evaluasi terkesan asal ada saja. Dosen atau guru membuat soal evaluasi hanya seadanya saja kurang sesuai dengan sasaran belajar. Tidak memperhatikan aspek kognitif, apektif, dan psikomotor. Dalam membuat atau menyusun soal ujian atau evaluasi hasil belajar, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Memberikan ukuran yang dipakai; seperti bagaimana mengukur, menilai, dan mengevaluasi sebagai kata kunci yang sering digunakan dalam diskusi materi evaluasi hasil belajar.
b. Mendiskusikan tentang fungsi penilaian untuk memperoleh pemahaman tentang hal-hal apa saja yang dapat dinilai melalui pelaksanaan ujian.
c. Melaksanakan standar penilaian ujian. Semakin bermutu soal, semakin terandalkan pula penilain yang diperoleh.
d. Merancang soal-soal ujian sedemikian rupa sehingga jumlah maupun derajat kesukaran soal relevan dengan sasaran belajar.
e. Tiap soal perlu mendapat bobot soal menurut relevansinya dengan sasaran belajar.
f. Sesudah membuat, menstrukturkan, dan menentukan bobot soal, soal-soal tersebut disajikan melalui ujian. Setelah itu dilakukan pengkuran dan penilaian hasil belajar.
g. Terakhir adalah pengambilan keputusan atas hasi evaluasi.
Secara berurutan proses evaluasi dimulai dari persiapan sebelum tes (evaluasi) sampai pengambilan keputusan. Pekerjaan tersebut berturut-turut sebagai berikut:
a. mengukur, menilai, mengevaluasi;
b. menetapkan fungsi penilain;
c. merancang soal bermutu:
1) kriteria soal bermutu;
2) struktur soal;
3) bobot soal.
d. Melakukan pengukuran dan penilaian hasil ujian atau evaluasi;
e. Melakukan pengambilan keputusan.
1. Pengukuran, Penilain, dan Evaluasi Hasil Belajar
Pengukuran adalah proses mengukur dengan mengggunakan alat ukur yang sama. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran subjektif dan bersifat kualitatif. Mengevaluasi adalah proses mengukur dan menilai.
Dalam dunia pendidikan, apabila dosan, mahasiswa, guru, murid, dan sistem pengajaran bersama-sama merupakan objek yang akan diukur dengan alat ukur berupa tes (sekumpulan soal) akan menghasilkan alat ukur berupa angka. Untuk mengambil keputusan, angka yang diperoleh itu ditransformasikan ke dalam nilai A, B, C, dst. Evaluasi hasil belajar merupakan proses mulai dan menentukan objek yang akan diukur, mengukurnya, mencapai hasil pengkuran, mentransformasikan ke dalam nilai, dan mengambil keputusan lulus tidaknya peserta ujian, efektif tidaknya guru dalam mengajar.
Ujian dapat berfungsi sebagai alat mengevaluasi efektifitas siswa belajar, dan efektifitas guru melakukan pengajaran, disamping itu ujian juga berfungsi sebagai instrumen pengukuran dan penilaian kemampuan siswa dalam mencapai sasaran belajar yang telah ditetapkan.
2. Fungsi Ujian sebagai Instrumen Evaluasi
Ujian mempunyai tiga fungsi, yaitu: mengukur, menilai, dan mengevaluasi. Suatu ujian dikatakan bermutu baik apabila ujian tersebut:
- menguji apa yang hendak diuji. Rancangan ujian mesti relevan dengan fungsi evaluasi yang diinginkan;
- terdiri atas serangkaian soal ujian yang baik dan bermutu, yaitu yang valid, relevan, spesifik, representatif, dan seimbang.
3. Struktur Soal Ujian
Dalam pembuatan soal ujian atau evaluasi semua pokok bahasan harus terwakili dalam ujian sehingga ujian tersebut diakatakan representatif. Materi pelajaran yang sifatnya must know (harus diketahui) harus ditanyakan paling banyak dalam ujian. Materi nice know (sebaiknya diketahui) adalah materi yang sebaiknya diketahui oleh siswa untuk memperluas wawasan dan memperjelas materi must know. Materi just know (pengetahuan tambahan) hanya bersifat intermezo dalam pembelajaran maka tidak perlu ditanyakan dalam ujian. Suatu ujian dikatakan seimbang apabila pokok bahasan terpenting ditanyakan paling banyak.
Soal-soal dikatakan bermutu apabila rangkaian soal tersebut telah diorganisasikan dalam suatu struktur soal sedemikain rupa sehingga rangkaian soal itu akan menunjukan reperesentatif, seimbang, dan relevansi dengan sasaran belajar.
Tujuan utama penyelenggaraan ujian adalah mengukur dan menilai seberapa jauh siswa mencapai sasaran belajar yang ditetapkan. Sehingga bobot soal yang disusunpun bertingkat-tingkat.
4. Kriteria Evaluasi
Untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan individual siswa, dibutuhkan beberap syarat. Pertama soal ujian harus dibuat secara spesifik, artinya tingkat kemampuan menjawab setiap soal yang dibuat harus sesuai dengan tingkat kemampuan yang ditetapkan dalam sasaran belajar. Kedua penialian dilakukan secara dikotomi artinya bobot yang diberikan sebagai penghargaan kepada siswa untuk setiap soal yang dikerjakannya harus ekstrim mendekati atau ekstrim menjauhi bobot soal yang ditetapkan.
Ada dua macam acuan penilaian dalam pengambilan keputusan;
- Penilaian Acuan Patokan (PAP) (criterion reference) sebagai nilai baku dalam penentuan keberhasilan ujian.
- Penilaian Acuan Norma (PAN) (norma reference)
PAP digunakan untuk menilai siswa secara individual dan memberi peluang lulus hanya bagi mereka yang belajar efektifat pintar. PAN merupakan cara pengambilan keputusan dengan menggunakan norma kelas atau norma kelompok sebagai acuan. Dengan PAN jumlah kelulusan menjadi tinggi karena hasil tidak terikat pada nilai baku yang telah ditentukan.
5. Konsep-konsep dalam Evaluasi
a. Validitas Instrumen
Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas ada empat macam, yaitu 1) Validiatas isi (contant validity), apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan., 2) Validitas konstruksi (construct validity) apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam Tujuan Instruksional Khusus, 3) Validitas “ada sekarang” (concurent validity) jika hasilnya sesuai sesuai dengan pengalaman., dan 4) Validitas prediksi (predictive validity) apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
Fungsi validitas instrumen adalah untuk menentukan kesahihan instrumen sehingga jika instrumen tersebut digunakan untuk mengumpulkan data atau digunakan untuk mnengukur kemampuan seseorang tidak diragukan lagi hasil yang diperoleh dari instrumen tersebut.
b. Reabilitas Instrumen
Realibilitas instrumen berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu instrumen dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika dapat memberikan hasil yang tetap.
Jenis-jenis realibilitas instrumen adalah:
1) Jenis paralel (equivalent), yaitu dua buah tes yang memiliki kesamaan tujuan, tingkat kesukaran dan susunan, tetapi butir-butir soalnya berbeda.
2) Jenis tes ulang (test-retest method) tesnya hanya satu dan dicobakan dua kali, tes ini disebut juga dengan single-test-double-trial method.
3) Jenis belah dua (split-half method), menggunakan sebuah tes dan dicobakan satu kali, disebut juga single-test-trial method.
7. Merancang Kegiatan Pembelajaran
Rancangan kegiatan pembelajaran adalah seperangkat tulisan yang berisi rencana pembelajaran dan praktikum dari dosen, guru atau pengajar dalam memberikan pembelajaran/kuliah atau praktikum. Dalam rancangan kegiatan pembelajaran (RKP) perlu ditampilkan tujuan pembelajaran yang jelas dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat.
Dalam membuat rancangan kegiatan pembelajaran, menurut beberapa ahli, seperti Atwi Suparman (1993), Toeti Soekamto, dkk (1993), dan Asmawi Zainul, dkk dalam Uno (2006 : 112), ada 10 langkah yang ditempuh sebagai acuan, yaitu:
1. Dosen/guru perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya, meliputi:
a. Bahan ajar apa yang akan diberikan kepada siswa/mahasiswa sesuai dengan kondisi siswa/mahasiswa.
b. Menyiapkan bahan pembelajaran/perkuliahan bagi dosen/guru, sehingga dosen/guru tahu apa yang mesti dikerjakan, dan siswa/mahasiswa mengetahui tugasnya masing-masing.
c. Sejauh mana siswa/mahasiswa mengetahui materi pelajaran/perkuliahan yang diberikan guru/dosen.
2. Menuliskan pokok bahasan dan subpokok bahasan
Setiap Pokok bahasan terdiri dari beberapa subpokok bahasan dan setiap subpokok bahasan terdiri atas satu atau lebih dari sasaran belajar (sasbel).
3. Merumuskan TIU untuk tiap pokok bahasan
Fungsi TIU adalah:
a. sebagai dasar untuk menyusun sasaran belajar (sasbel).
b. sebagai dasar untuk menjelaskan tujuan mata pelajaran secara ringkas.
c. untuk menjelaskan kedudukan mata pelajaran di dalam kurikulum.
d. untuk mennetukan kegiatan mengajar.
4. Menyusun pokok bahasan dan subpokok bahasan dalam skema hubungan
Skema hubungan pokok bahasan yang satu dan yang lain harus rigid artinya harus berhubungan secara logika (nalar) berkaitan satu sama lain.
5. Menentukan frekuensi pembelajaran untuk setiap pokok bahasan
Setiap mata pelajaran mempunyai pokok bahasan yang berbeda, maka frekuensinyapun untuk setiap mata pelajaran berbeda-beda
6. Merumuskan sasaran belajar
Inti dari kegiatan pembelajaran adalah terletak pada sasbel (sasaran belajar). Penyusunan sasbel harus benar yaitu harus:
a. terperinci,
b. sesuai dengan perilaku siswa dan terukur,
c. disesuaikan dengan waktu,
d. sesuai dengan hasil minimal yang ingin dicapai,
e. sesuai dengan sarana yang ada.
7. Membuat matriks Rencana Kegiatan Pembelajaran (RKP)
Matriks RKP berisi seperangkat informasi yang menjelaskan secara rinci hubungan antara pokok bahasan, subpokok bahsan, sasbel, bentuk pengajaran, media pengajaran, tugas terstruktur, waktu tatap muka.
Untuk penulisan matriks ini sudah relatif baku, yaitu mulai dari:
a. nomor urut,
b. pokok bahasan,
c. subpokok bahasan,
d. sasbel,
e. bentuk pengajaran,
f. media pengajaran,
g. waktu setiap tatap muka,
h. pokok bahasan tersebut,
i. penulisan pustaka.
8. Menentukan ujian dan bobot soal
Biasanya dalam proses pembelajaran, diadakan ujian (penilaian/evaluasi) yang terdiri dari harian, catur wulan, semester, midsemster, dan lain-lain. Dalam praktik ujian, ada dua macam, yaitu ujian terbuka (ujian tulis, mengisi soal) dan ujian tertutup (menjawab soal benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda).
9. Menyusun pedoman pembelajaran dan RKP
Penyusunan harus dilaksanakan sebaik mungkin, terlebih sebaiknya didiskusikan dengan rekan sejawat dan dilanjutnya revisi sesuai hasil diskusi. Selain itu dalam menyusun RKP harus memperhatikan faktor ketersediaan sumber belajar.
10. Menyerahkan Rencana Kegiatan Pembelajaran (RKP)
Rencana Kegiatan Pembelajaran (RKP) yang telah disusun diserahkan kepada bagian akademik sebagai bukti bahwa kita sebagai pengajar telah siap dan memiliki pedoman yang jelasa dalam melaksanakan pembelajaran.
I. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitataif, yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan penyimpangan antara rencana pembelajaran yang telah dibuat guru dengan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa
J. Populasi dan Sampel
Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah Guru-guru Sekolah Dasar pada pembelajaran sain di beberapa daerah (Kabupaten / Kota).
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non random sampling yaitu suatu cara pengambilan sampel untuk tujuan tertentu.
K. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan cara :
1. Observasi
2. Test Prestasi belajar
3. Dokumentasi
L. Teknik Analisa Data
Langkah-langkah pengolahan data yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut:
1. Menghitung skor yang diperoleh masing-masing siswa pada tes awal dan tes akhir
2. Menghitung Validitas item
M. Daftar Pustaka
Dikdasmen. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Kadir, Abdul. (2000). Penerapan Model Cooperative Learning Tipe STAD Dalam Pembelajaran Fisika Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa.Tesis Magister IPA Universitas Pendidikan Indonesia.Tidak diterbitkan
Kadri.(1992). Peranan Guru Sebagai Pembimbing Dalam Mengembangkan Kreatifitas Belajar Siswa. Tesis Program Pasca Sarjana IKIP Bandung.Tidak diterbitkan
Nurmala. Mamay N (2003).Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Pada Konsep Struktur atom Hidrogen dengan menggunakan Metoda Diskusi Kelas dan Metode Belajar berkelompok Tipe STAD. Tesisi. Magister IPA Universitas Pendidikan Indonesia
Sudjana (1989).Metode dan Teknik Kegiatan Belajar Partisipasif. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.
Supriadi,Dedi.(1994). Kreatifitas, Kebudayaan Dan Perkembangan Iptek. Bandung:Alpabet
Surya.Mochamad. (1983).Psikologi Pengembangan.Bandung:FIP IKIP Bandung
Syamsudin. Abin. (2000).Psikologi Pendidikan. Bandung:Rosda
Uno, Hamzah. (2006). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Harjanto. (2006). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
