Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang
sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia
pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9
tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid.
Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya
Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.
Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu
bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya
(qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress,
inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai
bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga
apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan
keputusan Allah.
Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah
SAW yaitu : "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih
sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan
memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan
kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus
bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih
besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang
sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah
dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai
imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak
istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang
istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras
untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian
pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan
yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya
kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang
memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu
dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai
thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu
itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya
mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan
saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika
buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya
saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya
Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti
kepada orang tua ?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan:
"Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang
berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan
terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa
amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan
kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan
menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang
tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak
yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang
kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita
boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat
karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap
keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita
untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang
sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila
kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena
nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya
wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang
yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh
orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya
harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya
untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah
SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat
tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang
makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara
haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang
hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang
halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin
bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya.
Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga
kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami
agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami
ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang
untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan
ciptaan-Nya.
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu,
semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi
cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi
cahaya bagi hatinya.
Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati
yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan
nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami
ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin
sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang
mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya
akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa
mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power
syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya
menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap
kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia
tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang
yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat
(melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu
dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan
Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia
ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam
kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat
"hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah
orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7
indikator kebahagiaan dunia.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di
dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian
saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu
"wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan
akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah.
Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang
Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk
surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau
setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan
tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan
seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang
dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa
memasukkan kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana
dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya
pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau
begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita
dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah
sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah.
Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah,
Amiin).
Orangorang yang beriman dan tidak
mencampur keimanan mereka dengan kedholiman (kesyirikan) mereka mendapatkan
keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
Dalil dari As Sunnah
[حق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئاً] متفق
عليه
Hak hamba terhadap Allah Subhanahu
wata’ala bahwa Dia tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukanNya dengan
sesuatupun.
4 Nabi yang masih hidup dan tetap diberi riziqi dari
khazanah Allah swt.
Mereka adalah golongan yang dikhususkan oleh Allah
swt.
2 Nabi Ada dibumi yaitu nabi Khidr dan Nabi ilyas a.s.
Ditempatkan di bagian bumi yang khusus yang Allah yang
maha tahu yang mengetahui tempat itu
2 Nabi ada di langit yaitu nabi isa dan nabi idris
a.s.
Ditempatkan di bagian langit yang khusus yang Allah
yang maha tahu yang mengetahui tempat itu.
Untuk menjelaskan hal ini, kami jelaskan 5 peringkat
hayah (kehidupan)
Satu pandangan Bediuzzaman Said Nursi di dalam
Maktubat, al-Maktub al-Awwal, dari koleksi Rasail al-Nur. Nursi menjawab satu
soalan…adakah Sayyidina Khidr masih hidup?
Nursi menjawab ya…kerana ‘hayah’ itu 5 peringkat. Nabi
Khidr di peringkat kedua.
5 Peringkat itu ialah: 1. Kehidupan kita sekarang yang banyak terikat pada masa dan tempat.
2. Kehidupan Sayyidina Khidr dan Sayyidina Ilyas. Mereka mempunyai
sedikit kebebasan dari ikatan seperti kita. Mereka boleh berada di byak tempat
dalam satu masa. boleh makan dan minum bila mereka mahu. Para Awliya’dan ahli
kasyaf telah meriwayatkan secara mutawatir akan wujudnya ‘hayah’ di peringkat
ini. Sehingga di dalam maqam ‘walayah’ ada dinamakan maqam Khidr.
3.Peringkat ketiga ini seperti kehidupan Nabi Idris dan Nabi Isa. Nursi
kata, peringkat ini kehidupan nurani yang menghampiri hayah malaikat.
4.Peringkat ini pula…ialah kehidupan para syuhada’. Mereka tidak mati,
tetapi mereka hidup seperti disebut dalam al-Qur’an. Ustaz Nursi sendiri pernah
musyahadah peringkat kehidupan ini. 5.Dan yang tingkat Hayah ini atau kehidupan rohani sekalian ahli kubur yang
meninggal
Wallahhua’lam. Subhanaka la ‘ilma lana innaka antal
‘alimul hakim
Berikut ini kami nukilkan kisahnya :
1. Perihal Nabi Khidr ‘alaihi salam.
Bukhari, Ibn al-Mandah, Abu Bakar al-Arabi, Abu Ya’la,
Ibn al-Farra’, Ibrahim al-Harbi dan lain-lain berpendapat, Nabi Khidir a.s.
tidak lagi hidup dengan jasadnya, ia telah wafat. Yang masih tetap hidup adalah
ruhnya saja, iaitu sebagaimana firman Allah:
“Kami tidak menjadikan seorang pun sebelum engkau
(hai Nabi), hidup kekal abadi.” (al-Anbiya’: 34)
Hadith marfu’ dari Ibn Umar dan Jabir (r.a.)
menyatakan:
“Setelah lewat seratus tahun, tidak seorang pun
yang sekarang masih hidup di muka bumi.”
Ibn al-Šalah, al-Tsa’labi, Imam al-Nawawi, al-Hafiz
Ibn Hajar al-Asqalani dan kaum Sufi pada umumnya; demikian juga
jumhurul-‘ulama’ dan ahl al-šalah (orang-orang saleh), semua berpendapat,
bahawa Nabi Khidir a.s. masih hidup dengan jasadnya, ia akan meninggal dunia
sebagai manusia pada akhir zaman. Ibn Hajar al-Asqalani di dalam Fath
al-Bari menyanggah pendapat orang-orang yang menganggap Nabi Khidir a.s.
telah wafat, dan mengungkapkan makna hadith yang tersebut di atas, iaitu
huraian yang menekankan, bahawa Nabi Khidir a.s. masih hidup sebagai manusia.
Ia manusia makhsus (dikhususkan Allah), tidak termasuk dalam pengertian hadith
di atas.
Mengenai itu kami berpendapat:
1. Kekal bererti tidak terkena kematian. Kalau Nabi
Khidir a.s. dinyatakan masih hidup, pada suatu saat ia pasti akan wafat. Dalam
hal itu, ia tidak termasuk dalam pengertian ayat al-Qur’an yang tersebut di
atas selagi ia akan wafat pada suatu saat.
2. Kalimat ‘di muka bumi’ yang terdapat dalam hadith
tersebut, bermaksud adalah menurut ukuran yang dikenal orang Arab pada masa itu
(dahulu kala) mengenai hidupnya seorang manusia di dunia. Dengan demikian maka
Nabi Khidir a.s. dan bumi tempat hidupnya tidak termasuk ‘bumi’ yang disebut
dalam hadith di atas, kerana ‘bumi’ tempat hidupnya tidak dikenal orang-orang
Arab.
3. Yang dimaksud dalam hal itu ialah generasi
Rasulullah s.a.w. terpisah sangat jauh dari masa hidupnya Nabi Khidir a.s.
Demikian menurut pendapat Ibn Umar, iaitu tidak akan ada seorang pun yang
mendengar bahawa Nabi Khidir a.s. wafat setelah usianya lewat seratus tahun.
Hal itu terbukti dari wafatnya seorang bernama Abu al-Thifl Amir, satu-satunya
orang yang masih hidup setelah seratus tahun sejak adanya kisah tentang Nabi
Khidir a.s.
4. Apa yang dimaksud ‘yang masih hidup’ dalam hadith
tersebut ialah: tidak ada seorang pun dari kalian yang pernah melihatnya atau
mengenalnya. Itu memang benar juga.
5. Ada pula yang mengatakan, bahawa yang dimaksud
kalimat tersebut (yang masih hidup) ialah menurut keumuman (ghalib) yang
berlaku sebagai kebiasaaan. Menurut kebiasaan amat sedikit jumlah orang yang
masih hidup mencapai usia seratus tahun. Jika ada, jumlah mereka sangat sedikit
dan menyimpang dari kaedah kebiasaaan; seperti yang ada di kalangan orang-orang
Kurdistan, orang-orang Afghanistan, orang-orang India dan orang-orang dari
penduduk Eropah Timur.
Nabi Khidir a.s. masih hidup dengan jasadnya atau
dengan jasad yang baru.
Dari semua pendapat tersebut, dapat disimpulkan: Nabi
Khidir a.s. masih hidup dengan jasad dan ruhnya, itu tidak terlalu jauh dari
kemungkinan sebenarnya. Tegasnya, Nabi Khidir a.s masih hidup; atau, ia masih
hidup hanya dengan ruhnya, mengingat kekhususan sifatnya.
Ruhnya lepas meninggalkan Alam Barzakh berkeliling di
alam dunia dengan jasadnya yang baru (mutajassidah). Itupun tidak terlalu jauh
dari kemungkinan sebenarnya. Dengan demikian maka pendapat yang menganggap Nabi
Khidir a.s. masih hidup atau telah wafat, berkesimpulan sama; iaitu: Nabi
Khidir a.s. masih hidup dengan jasadnya sebagai manusia, atau, hidup dengan
jasad ruhi (ruhani). Jadi, soal kemungkinan bertemu dengan Nabi Khidir a.s.
atau melihatnya adalah benar sebenar-benarnya. Semua riwayat mengenai Nabi
Khidir a.s. yang menjadi pembicaraan ahlullah (orang-orang bertaqwa dan dekat
dengan Allah S.W.T.) adalah kenyataan yang benar terjadi.
Silakan lihat kitab Ušul al-Wušul karya Imam
al-Ustaz Muhammad Zaki Ibrahim, Jilid I, Bab: Kisah Khidir Bainas-Šufiyah Wa
al-‘Ulama’. Dipetik dengan sedikit perubahan dari al-Hamid al-Husaini, al-Bayan
al-Syafi Fi Mafahimil Khilafiyah; Liku-liku Bid‘ah dan Masalah
Khilafiyah (Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, 1998, m.s. 488).
Banyak sekali riwayat-riwayat tentang nabi khidr dalam
kitab-kitab yang mu’tabar. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Nabi khidr masih
hidup dan mati ditangan Dajjal.
Dajjal akan menangkap seorang pemuda beriman. Kemudian
dajjal menyuruhnya untuk menyembahnya, tapi pemuda itun menolak dan tetap
beriman pada Allah. Lalu Dajjal membunuhnya dan membelah nya menjadi Dua. satu
Bagian Dilempar sejauh mata memandang dan satu bagian dilempar sejauh mata
memandang kesebelah lainnya. Kemudian Dajjal menghidupkan kembali pemuda itu.
dajjal menyuruhnya agar beriman kepadanya karena ia telah mematikannya lalu
menghidupkannya. Maka pemuda itu tidak mau dan tetap beriman kepada Allah.
Pemuda itu bahkan mengatakan “Kamu benar-benar Dajjal!!”. Lalu Dajjal
mewafatkannya lagi.
Ada riwayat yang mengatakan pemuda beriman ini adalah
Nabi Khidr a.s. (wallahua’lam).
Syaikh Muhammad Amin Kurdi dalam “Tanwirul Qulub”
pada halaman 422 menulis satu faedah seperti berikut:-
Imam as-Sayuthi telah menyebut dalam “Luqtul
Marjaan” daripada Sayyidina Ibnu ‘Abbas r.`anhuma sebagai berkata:-
“Nabi
al-Khidhr dan Nabi Ilyas bertemu pada setiap tahun di musim haji dan
mereka berdua berpisah atas kalimah-kalimah ini: “Dengan nama Allah,
sesuatu itu menurut apa yang dikehendaki Allah, tidak ada yang
mendatangkan kebaikan melainkan Allah; Sesuatu itu menurut apa yang
dikehendaki Allah, tidak ada yang menolak kejahatan melainkan Allah;
Sesuatu itu menurut apa yang dikehendaki Allah, setiap keni’matan adalah
daripada Allah; Sesuatu itu menurut apa yang dikehendaki Allah, tiada daya
upaya dan kekuatan melainkan dengan Allah”. Ibnu ‘Abbas berkata:
“Sesiapa yang membaca doa ini ketika pagi dan petang sebanyak 3 kali, maka
Allah akan mengamankan (yakni menyelamatkan) dia dari tenggelam (lemas),
kebakaran, kecurian, dari (kejahatan) syaitan, penguasa, ular dan kala
jengking.”
Maka sewajarnya bagi seseorang murid untuk mengamalkan
doa ini, kerana ianya akan menjadi sebab yang membawa kepada tawakkal.
Doa ini juga dinukil oleh Hujjatul Islam al-Ghazali dalam
“Ihya` ‘Ulumiddin” jilid 1 halaman 374 dengan sedikit perbezaan
lafaz.
Tawakkal itu amatlah penting dalam kehidupan seseorang
muslim. Walau bagaimana hebatnya kita, selaku hamba kita hendaklah sentiasa
bertawakkal kepada Allah, sejak permulaan setiap sesuatu pekerjaan berkekalan
sehingga mencapai tujuan atau sebaliknya. Allah pula menyukai orang-orang yang
bertawakkal sebagaimana difirmankanNya dalam surah Ali ‘Imraan ayat 159 yang
kira-kira bererti: “Bahawasanya Allah ta`ala
itu kasih akan orang-orang yang bertawakkal.” Manakala dalam
surah ath-Tholaaq ayat 3, Allah berfirman yang kira-kira bererti: “Dan sesiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah itu
mencukupi baginya.
Satu lagi posting berhubung
NabiyUllah Khidhir a.s., mudah-mudahan dengan menyebut nama baginda a.s. dalam
bulan yang mulia ini kita akan dapat keberkatannya. Kebetulan aku baru dapat
sebuah buku karangan Allamah Syaikh Muhammad al-Jazri dengan jodol “al-Hisnul
Hasin” ( الحصن الحصين ) yang diterjemah oleh Maulana Muhammad Rafeeq
ibni Maulana Ahmed Hathurani dan diberi kata pengantar oleh Maulana Muhammad Taqi Usmani. Kitab asalnya memang aku kenali,
tetapi aku tidak pernah memiliki dan mentelaahnya secara terperinci kerana aku
merasakan bahawa ianya karangan berisikan doa dan zikir semata-mata.
Rupa-rupanya tentang NabiyUllah Khidhir a.s. pun ada disebut pengarangnya pada
halaman 228 di mana dinyatakan bahawa pada hari kewafatan Junjungan Nabi
s.a.w., Nabi Khidhir a.s. telah menziarahi jenazah baginda yang mulia serta
mengucapkan kata-kata takziah dan nasihat kepada para sahabat. Untuk lebih
jelas, biar aku nukilkan semula apa yang disebut dalam buku itu, di bawah
subtitle “Condolence of Sayyidona Khidr a.s.“:-
According to the Hadeeth, the day
Rasoolullah (Sallallaahu-alayhi-wasallam) passed away, a
powerful-looking, beautiful and handsome man with a white beard came leaping
across the necks of people till he reached where the sacred body of Rasoolullah
(Sallallaahu-alayhi-wasallam) lay. He wept bitterly and turned towards
the Sahabah (RA) and said the undermentioned words. Aboo Bakr (RA) and Ali (RA)
said that he was Khidr (AS). The words are as follows:- “Surely, Allah
alone grants patience in every misfortune and compensation for anything lost
and substitute for anything destroyed. Return to Allah alone and flee towards
Him only. In times of difficulty, His gaze is set on you (and He does not
forsake you). Understand this because a genuinely unfortunate and miserable
person is one who is not given any compensation for his misfortune.”
Sebagaimana
yang aku jelaskan dalam posting-posting terdahulu berhubungan, isu berterusan
hayat NabiyUllah Khidhir sehingga masa ini adalah masalah khilafiyyah ulama.
Jika ada ulama yang menafikan hayatnya sekarang, maka ada ulama lain yang
mensabitkannya. Jadi tidak perlulah isu ini dijadikan punca perbalahan yang
tidak berkesudahan, dan yang lebih parah lagi perbalahan yang membawa kepada
kutuk-mengutuk dan keji-mengeji. Berhubung hadits mengenai ziarah dan takziah
Nabi Khidhir ini, insya-Allah di lain posting aku akan nukilkan kalam ulama
berhubung dengannya. Allahu a’laam.
Ikhwah Fadhilatul Imam al-Ustaz Muhammad Zaki Ibrahim dalam bukunya “Usul
al-Wushul” mukasurat 165 – 166 menyatakan:-
Berkata
Ibnul Jawzi, Ibnu Abi Ziyad, Abul Hasan ar-Rumaani, Muhammad bin Ishaq dan
lainnya bahawasanya Nabi al-Khidhir adalah Nabi dan Rasul.
Dan
dinaqal al-Qurthubi, Abu Hayyan, al-Baghawi, Ibnu ‘Athiyyah dan
ats-Tsa’labi dalam kitab-kitab tafsir mereka bahawasanya dia Nabi sahaja,
dan mereka berkata bahawa inilah pegangan kebanyakan ahli ilmu dan inilah
pandangan Sayyidina Ibnu ‘Abbas dan sebahagian sahabat.
Adapun
Abul Qaasim al-Qusyairi, Abu Bakar bin al-Anbaari, Abu ‘Ali bin Abi Musa
dan jumhur ahli sufi atas pendapat bahawa dia adalah Wali iaitu seorang
hamba yang sholeh, sebagaimana dinash dalam al-Quran.
Dan
dinaqalkan al-Maawardi bahawa dia adalah malaikat (yang berjasad dalam
rupa bentuk manusia), akan tetapi al-Hafiz bin Abi Dihyah menyerahkan
sahaja perkara ini dengan katanya: “Kami tidak mengetahui adakah baginda
malaikat atau nabi atau hamba yang sholeh (yakni wali). Dan inilah
pendapat jumhur ahli sufi.
Dan
yang ashah ialah bahawasanya baginda adalah nabi, wa Allahu a’laam.
Kali ini aku nukil pulak tulisan Syaikh Badi`uz-Zaman
Sa`id an-Nursi yang diterjemah dalam bahasa omputih di bawah jodol “The
Letters“, jilid 1, mukasurat 1 – 2. Buku ini kome boleh cari kat Saba
Islamic Media.
First
question:- Is Khadr (peace be upon him) still alive ? If so, why do some
serious scholars reject his being alive ?
Answer:-
He is still alive. But there are five degrees of life, of which
Khadr has the second. It is because of this that those scholars have
doubted his being alive.
….The
second degree of life is manifested in the lives of Khadr and Elijah. This
second degree is to some certain extent free in that those who have it can
be present in different places at the same time, and their life is not
bound by the necessities that bind ordinary human life. Like us, they may
eat and drink at times but, unlike us, they do not have to. The experiences
that some godly persons who are able to discern the hidden truths have had
with Khadr are enough to illuminate and prove this degree of life.
Further, one of the spiritual degrees or stations which saints reach in
their spiritual journeys is called the ‘station of Khadr’. A saint who has
attained this degree may meet Khadr and be directly instructed by him.
Indeed, it sometimes even happens that one who holds this station is
mistaken for Khadr himself.
Begitulah, ikhwah pandangan Syaikh Badi’uz-Zaman an-Nursi.
Terpulanglah kepada kalian, nak terima sila, nak tolak gasak kome le, kan
Syaikh an-Nursi tak maksum, sama jugak macam Syaikh Qardhawi dan Dr. Solah
al-Khalidi. Tergelak den bila tengok hujah geng Ahkam, syabas kepada THTL,
alitantawi & Zain Y.S. Typical hujjah geng Ahkam bila tersandat …. ulama
tak maksum ……. ulama bias …….. macamlah depa kat Ahkam Online maksum,
tak bias ……. lagi sekali gua cakap sama lu:-
Buat masa ini, malas aku nak komen panjang terhadap
tuduhan dan tohmahan budak-budak kat forum al-Ahkam especially buat yang
dikasihi THTL yang kononnya aku anti sunnah sebab anti wahhabi lalu anti salafi
lalu anti sunnah. Inilah dakyah geng puak tu, mudahnya disinonimkan salafi
gadungan puak depa dengan kaum salafus saleh terdahulu. Muka tak malu mengaku
salaf. Kalau kat Pulau Jawa, istilah Salafi digunakan untuk penyokong Ahlus
Sunnah wal Jamaah yang bermazhab, bukan salafi gadungan macam THTL. Buat THTL
komen aku buat masa ini:-
TUAN HASAN
TUAN LAH
TUAN HASAN
BOLEH BLAH
Jangan marah, karang cepat mampus tak sempat pulak jadi imam mujtahid.
Ikhwah, aku
terbaca dalam sebuah posting geng anak Pak Wahab yang menyatakan bahawa menurut
jumhur ulama Nabi Khidhir itu sudah wafat dan hanya golongan minoriti sahaja
yang berpendapat bahawa Nabi Khidhir masih hidup. Sedangkan kenyataannya adalah
sebaliknya kerana jumhur ulama Ahlus Sunnah wal Jama`ah memfatwakan
bahawa Nabi Khidhir a.s. masih hidup dan hanya golongan minoriti sahaja
yang mengatakan baginda telah wafat. Aku nukilkan di sini tulisan Imam
an-Nawawi dalam “Syarah Muslim” juzuk ke – 15, mukasurat 135 –
136 pada Bab min Fadhail al-Khidhir s.a.w., beliau menyatakan:-
JUMHUR
ULAMA
berpendapat bahawasanya dia (yakni Sayyidina Khidhir) hayyun maujudun
baina adzharina (hidup dan wujud di kalangan kita, yakni di masa kita
ini) dan pendapat ini telah disepakati oleh para shufi dan ahlush sholah
wal ma’rifah (orang-orang ahli kebajikan dan ma’rifah). Cerita-cerita
mereka mengenai melihat dan bertemu dengan baginda dan mengambil
pengajaran serta bersoal-jawab dengan baginda, dan kehadiran baginda di tempat-tempat
yang mulia dan tempat-tempat kebajikan adalah terlalu banyak daripada
boleh dihitung dan terlalu masyhur daripada boleh ditutup. Dan telah
berkata asy-Syaikh Abu ‘Umar bin ash-Sholah: “Dia (yakni Nabi Khidhir)
hidup menurut jumhur ulama dan orang-orang sholeh dan orang awam adalah
beserta mereka dalam pegangan ini”. Dia juga berkata: “Bahawasanya adalah
satu pandangan yang ganjil daripada sesetengah muhadditsin pada
mengingkari hal ini (yakni sebahagian ahli hadits mengingkari bahawa Nabi
Khidhir masih hidup).
Jadi Imam an-Nawawi dengan jelas menyatakan bahawa
JUMHUR ULAMA berpegang dengan pendapat bahawa Nabi Khidhir a.s. masih hidup dan
belum mati lagi. Bagaimana rupa kehidupan baginda, Allah sahaja yang Maha
Mengetahui dan Maha Berkuasa. Hidup atau matinya baginda sekarang bukanlah
perkara besar dan tidak harus dijadikan perbalahan sesama umat. Nak percaya
baginda masih hidup, tidak ada masalah kerana itulah pendapat jumhur ulama dan
yang nak percaya bahawa baginda telah wafat pun tidak menjadi masalah kerana
sesetengah ulama dan ahli hadits berpendapat sedemikian seperti Imam
al-Bukhari. Dan aku nak pesan kat sini agar sesiapa yang percaya jangan pulak
mudah sangat men’claim’ telah bertemu dengan Nabi Khidhir. Dalam bermu’amalah
dengan manusia aku teringat kalam hikmah as-Sajjad Imam Ali Zainal ‘Abidin di
mana dia berpesan : “Anggaplah setiap orang yang engkau temui itu Nabi
Khidhir”. Sebenarnya hikmah kalam ini bertujuan untuk membaikkan
budipekerti serta baik mu’amalah dan mujammalah sesama anak Adam. Allahu ‘alam.
Ketika sedang berehat datanglah malaikat kepada Nabi
Ilyas A.S. Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu,
Ilyas menjadi sedih dan menangis.
“Mengapa engkau bersedih?” tanya malaikat maut.
“Tidak tahulah.” Jawab Ilyas.
“Apakah engkau bersedih kerana akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi
maut?” tanya malaikat.
“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali kerana aku menyesal tidak boleh
lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berxikir
memuji Allah,” jawab Ilyas.
Saat itu Allah lantas menurunkan wahyu kepada malaikat
agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas
berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas ingin terus hdup semata-mata
kerana ingin berzikir kepada Allah. Maka berzikirlah Nabi Ilyas sepanjang
hidupnya.
“Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-Ku
sampai akhir nanti.” Kata Allah.
Diriwayatkan Nabi Idris as. telah naik ke
langit pada hari Isnin. Peristiwa naiknya Nabi Idris as. ke langit ini, telah
dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran.
Firman
Allah SWT bermaksud:
“Dan
ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah, Idris yang tersebut di dalam
Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang
Nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (Maryam: 56-57)
Nama
Nabi Idris as. yang sebenarnya adalah ‘Akhnukh’. Sebab beliau dinamakan Idris,
kerana beliau banyak membaca, mempelajari (tadarrus) kitab Allah SWT.
Setiap
hari Nabi Idris menjahit qamis (baju kemeja), setiap kali beliau memasukkan
jarum untuk menjahit pakaiannya, beliau mengucapkan tasbih. Jika pekerjaannya
sudah selesai, kemudian pakaian itu diserahkannya kepada orang yang menempahnya
dengan tanpa meminta upah. Walaupun demikian, Nabi Idris masih sanggup
beribadah dengan amalan yang sukar untuk digambarkan. Sehingga Malaikat Maut
sangat rindu berjumpa dengan beliau.
Kemudian
Malaikat Maut bermohon kepada Allah SWT, agar diizinkan untuk pergi menemui
Nabi Idris as. Setelah memberi salam, Malaikat pun duduk.
Nabi
Idris as. mempunyai kebiasaan berpuasa sepanjang masa. Apabila waktu berbuka
telah tiba, maka datanglah malaikat dari Syurga membawa makanan Nabi Idris,
lalu beliau menikmati makanan tersebut.
Kemudian
baginda beribadah sepanjang malam. Pada suatu malam Malaikat Maut datang
menemuinya, sambil membawa makanan dari Syurga. Nabi Idris menikmati makanan
itu. Kemudian Nabi Idris berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai tuan, marilah
kita nikmati makanan ini bersama-sama.” Tetapi Malaikat itu menolaknya.
Nabi
Idris terus melanjutkan ibadahnya, sedangkan Malaikat Maut itu dengan setia
menunggu sampai terbit matahari. Nabi Idris merasa hairan melihat sikap
Malaikat itu. Kemudian beliau berkata: “Wahai tuan, mahukah tuan bersiar-siar
bersama saya untuk melihat keindahan alam persekitaran? Malaikat Maut menjawab:
Baiklah Wahai Nabi Allah Idris.”
Maka
berjalanlah keduanya melihat alam persekitaran dengan berbagai jenis
tumbuh-tumbuhan hidup di situ. Akhirnya ketika mereka sampai pada suatu kebun,
maka Malaikat Maut berkata kepada Nabi Idris as.:
“Wahai
Idris, adakah tuan izinkan saya untuk mengambil ini untuk saya makan? Nabi
Idris pun menjawab: Subhanallah, mengapa malam tadi tuan tidak mahu memakan
makanan yang halal, sedangkan sekarang tuan mahu memakan yang haram?”
Kemudian
Malaikat Maut dan Nabi Idris meneruskan perjalanan mereka. Tidak terasa oleh
mereka bahawa mereka telah bersiar-siar selama empat hari. Selama mereka
bersahabat, Nabi Idris menemui beberapa keanehan pada diri temannya itu. Segala
tindak-tanduknya berbeza dengan sifat-sifat manusia biasa. Akhirnya Nabi Idris
tidak dapat menahan hasrat ingin tahunya itu.
Kemudian
beliau bertanya: “Wahai tuan, bolehkah saya tahu, siapakah tuan yang
sebenarnya?
Saya
adalah Malaikat Maut.”
“Tuankah
yang bertugas mencabut semua nyawa makhluk?”
“Benar
ya Idris.”
“Sedangkan
tuan bersama saya selama empat hari, adakah tuan juga telah mencabut
nyawa-nyawa makhluk?”
“Wahai
Idris, selama empat hari ini banyak sekali nyawa yang telah saya cabut. Roh
makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku, aku ambil mereka bagaikan
seseorang sedang menyuap-nyuap makanan.”
“Wahai
Malaikat, apakah tujuan tuan datang, apakah untuk ziarah atau untuk mencabut
nyawaku?”
“Saya
datang untuk menziarahimu dan Allah SWT telah mengizinkan niatku itu.”
“Wahai
Malaikat Maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu, iaitu agar tuan mencabut
nyawaku, kemudian tuan mohonkan kepada Allah agar Allah menghidupkan saya
kembali, supaya aku dapat menyembah Allah Setelah aku merasakan dahsyatnya
sakaratul maut itu.”
Malaikat
Maut pun menjawab: “Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun,
melainkan hanya dengan keizinan Allah.”
Lalu
Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut, agar ia mencabut nyawa Idris as.
Maka dicabutnyalah nyawa Idris saat itu juga. Maka Nabi Idris pun merasakan
kematian ketika itu.
Di
waktu Malaikat Maut melihat kematian Nabi Idris itu, maka menangislah ia.
Dengan perasaan hiba dan sedih ia bermohon kepada Allah supaya Allah
menghidupkan kembali sahabatnya itu. Allah mengabulkan permohonannya, dan Nabi
Idris pun dihidupkan oleh Allah SWT kembali.
Kemudian
Malaikat Maut memeluk Nabi Idris, dan ia bertanya: “Wahai saudaraku,
bagaimanakah tuan merasakan kesakitan maut itu? “
“Bila
seekor binatang dilapah kulitnya ketika ia masih hidup, maka sakitnya maut itu
seribu kali lebih sakit daripadanya.
“Padahal-kelembutan
yang saya lakukan terhadap tuan, ketika saya mencabut nyawa tuan itu, belum
pernah saya lakukan terhadap sesiapa pun sebelum tuan.”
“Wahai
Malaikat Maut, saya mempunyai permintaan lagi kepada tuan, iaitu saya
sungguh-sungguh berhasrat melihat Neraka, supaya saya dapat beribadah kepada
Allah SWT lebih banyak lagi, setelah saya menyaksikan dahsyatnya api neraka
itu.”
“Wahai
Idris as. saya tidak dapat pergi ke Neraka jika tanpa izin dari Allah SWT.”
Akhirnya
Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut agar ia membawa Nabi Idris ke dalam
Neraka. Maka pergilah mereka berdua ke Neraka. Di Neraka itu, Nabi Idris as.
dapat melihat semua yang diciptakan Allah SWT untuk menyiksa musuh-musuh-Nya.
Seperti rantai-rantai yang panas, ular yang berbisa, kala, api yang membara,
timah yang mendidih, pokok-pokok yang penuh berduri, air panas yang mendidih
dan lain-lain.
Setelah
merasa puas melihat keadaan Neraka itu, maka mereka pun pulang. Kemudian Nabi
Idris as. berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai
hajat yang lain, iaitu agar tuan dapat menolong saya membawa masuk ke dalam
Syurga. Sehingga saya dapat melihat apa-apa yang telah disediakan oleh Allah
bagi kekasih-kekasih-Nya. Setelah itu saya pun dapat meningkatkan lagi ibadah
saya kepada Allah SWT. Saya tidak dapat membawa tuan masuk ke dalam Syurga,
tanpa perintah dari Allah SWT.” Jawab Malaikat Maut.
Lalu
Allah SWT pun memerintahkan kepada Malaikat Maut supaya ia membawa Nabi Idris
masuk ke dalam Syurga.
Kemudian
pergilah mereka berdua, sehingga mereka sampai di pintu Syurga dan mereka
berhenti di pintu tersebut.
Dari
situ Nabi Idris dapat melihat pemandangan di dalam Syurga. Nabi Idris dapat
melihat segala macam kenikmatan yang disediakan oleh Allah SWT untuk para
wali-waliNya. Berupa buah-buahan, pokok-pokok yang indah dan sungai-sungai yang
mengalir dan lain-lain.
Kemudian
Nabi Idris berkata: “Wahai saudaraku Malaikat Maut, saya telah merasakan
pahitnya maut dan saya telah melihat dahsyatnya api Neraka. Maka mahukah tuan
memohonkan kepada Allah untukku, agar Allah mengizinkan aku memasuki Syurga
untuk dapat meminum airnya, untuk menghilangkan kesakitan mati dan dahsyatnya
api Neraka?”
Maka
Malaikat Maut pun bermohon kepada Allah. Kemudian Allah memberi izin kepadanya
untuk memasuki Syurga dan kemudian harus keluar lagi. Nabi Idris pun masuk ke
dalam Syurga, beliau meletakkan kasutnya di bawah salah satu pohon Syurga, lalu
ia keluar kembali dari Syurga. Setelah beliau berada di luar, Nabi Idris
berkata kepada Malaikat Maut:
“Wahai Malaikat Maut, aku telah meninggalkan kasutku di dalam Syurga.
Malaikat
Maut pun berkata: Masuklah ke dalam Syurga, dan ambil kasut tuan.”
Maka
masuklah Nabi Idris, namun beliau tidak keluar lagi, sehingga Malaikat Maut
memanggilnya: “Ya Idris, keluarlah!. Tidak, wahai Malaikat Maut, kerana Allah
SWT telah berfirman bermaksud: “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.”
(Ali-Imran: 185)
Sedangkan
saya telah merasakan kematian. Dan Allah berfirman yang bermaksud: “Dan
tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi Neraka itu.”
(Maryam: 71)
Dan
saya pun telah mendatangi Neraka itu. Dan firman Allah lagi yang bermaksud: “…
Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya (Syurga).”
(Al-Hijr: 48)
Maka
Allah menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut itu: “Biarkanlah dia, kerana Aku
telah menetapkan di azali, bahawa ia akan bertempat tinggal di Syurga.”
Allah
menceritakan tentang kisah Nabi Idris ini kepada Rasulullah SAW dengan firman-Nya
bermaksud: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris yang
tersebut di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat
membenarkan dan seorang Nabi. Dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang
tinggi.” (Maryam: 56-57)
Seorang lagi Nabi Allah yang diceritakan dari kecil di
dalam al-Qur’an ialah Isa. Baginda diutus kepada kaum Bani Israil dengan kitab
Injil yang diturunkan sebelum al-Qur’an.
Di dalam al-Qur’an, Nabi Isa disebut dengan empat
panggilan iaitu Isa, Isa puteraMariam, putera Mariam,
dan al-Masih.
Ibunya seorang yang sangat dimuliakan Allah. Dia
memilihnya di atas semua perempuan di semua alam. Firman-Nya, “Dan ketika
malaikat-malaikat berkata, ‘Wahai Mariam, Allah memilih kamu, dan membersihkan
kamu, dan Dia memilih kamu di atas semua perempuan di semua alam’” (3:42).
Mariam, ibu Nabi Isa, telah menempuh satu ujian yang
amat berat daripada Allah. Dia dipilih untuk melahirkan seorang Nabi dengan
tanpa disentuh oleh seseorang lelaki. Dia adalah seorang perempuan yang suci.
Kelahiran
Kelahiran Nabi Isa merupakan suatu mukjizat kerana
dilahirkan tanpa bapa. Kisahnya diceritakan di dalam al-Qur’an. Di sini,
ceritanya bermula dari kunjungan malaikat kepada Mariam atas perintah Allah.
Ketika itu, malaikat menyerupai manusia dengan tanpa cacat. Kemunculan malaikat
membuat Mariam menjadi takut lalu berkata,
“Aku berlindung pada Yang Pemurah daripada kamu, jika
kamu bertakwa (takut kepada Tuhan)!’
Dia (malaikat) berkata, ‘Aku hanyalah seorang rasul
yang datang daripada Pemelihara kamu, untuk memberi kamu seorang anak lelaki
yang suci.’” (19:18-19)
Pada ayat yang lain, diceritakan bahawa malaikat yang
datang itu telah memberi nama kepada putera yang bakal dilahirkan. Nama itu
diberi oleh Allah, dan dia (Isa) akan menjadi terhormat di dunia dan akhirat
sambil berkedudukan dekat dengan Tuhan. Ayatnya berbunyi:
“Wahai Mariam, Allah menyampaikan kepada kamu berita
gembira dengan satu Kata daripada-Nya, yang namanya al-Masih, Isa putera
Mariam, terhormat di dunia dan di akhirat, daripada orang-orang yang
didekatkan.” (3:45)
Kemudian Mariam bertanya,
“Bagaimanakah aku akan ada seorang anak lelaki sedang
tiada seorang manusia pun menyentuhku, dan bukan juga aku seorang jalang?”
(19:20)
Malaikat menjawab,
“Dia (Allah) berkata, ‘Begitulah; Pemelihara kamu
telah berkata, ‘Itu mudah bagi-Ku; dan supaya Kami membuat dia satu ayat
(tanda) bagi manusia, dan satu pengasihan daripada Kami; ia adalah perkara yang
telah ditentukan’” (19:21).
Maka lahirlah Isa putera Mariam lebih enam ratus tahun
sebelum Nabi Muhammad dilahirkan. Allah membuat Nabi Isa dan ibunya satu ayat
(tanda) bagi manusia, iaitu tanda untuk menunjukkan kebesaran-Nya (23:50).
Kerasulan dan Kenabian
Isa adalah seorang Nabi dan juga seorang Rasul.
Baginda dan beberapa orang rasul telah dilebihkan Allah daripada rasul-rasul
lain. Ada yang Dia berkata-kata kepadanya, ada yang Dia menaikkan darjat, dan
bagi Isa, Dia memberi bukti-bukti yang jelas serta mengukuhkannya dengan Roh
Suci. Firman-Nya:
“Dan rasul-rasul itu, sebahagian Kami melebihkan di
atas sebahagian yang lain. Sebahagian ada yang kepadanya Allah berkata-kata,
dan sebahagian Dia menaikkan darjat. Dan Kami memberikan Isa putera Mariam
bukti-bukti yang jelas, dan Kami mengukuhkan dia dengan Roh Qudus (Suci).”
(2:253)
Namun begitu, manusia dilarang oleh Allah untuk
membeza-bezakan antara para rasul dan Nabi. Larangan itu berbunyi,
“Katakanlah, ‘Kami percaya kepada Allah, dan apa yang
diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, dan Ismail, dan
Ishak, dan Yaakub, dan puak-puak, dan apa yang diberi kepada Musa, dan Isa, dan
apa yang diberi kepada Nabi-Nabi daripada Pemelihara mereka. Kami tidak
membeza-bezakan seorang pun antara mereka, dan kepada-Nya kami muslim.’”
(2:136)
Akibat membeza-bezakan Nabi atau Rasul dapat dilihat
pada hari ini, iaitu Nabi Isa dipercayai oleh sesetengah pihak sebagai Tuhan
atau anak Tuhan, dan Nabi Muhammad, dianggap macam Tuhan, yang berhak membuat
hukum agama.
Ajaran
Oleh kerana Isa seorang Nabi baginda diberi sebuah
Kitab, Injil, yang mengandungi petunjuk dan cahaya untuk menjadi pegangan Bani
Israil. Selain menyuruh Bani Israil menyembah Allah dengan mentaati Injil,
baginda mengesahkan kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya. Dua firman Allah
menjelaskannya di sini, berbunyi:
“Dan Kami mengutus, menyusuli jejak-jejak mereka, Isa
putera Mariam, dengan mengesahkan Taurat yang sebelumnya; dan Kami memberinya
Injil, di dalamnya petunjuk dan cahaya,” (5:46) dan,
“Aku (Isa) hanya mengatakan kepada mereka apa yang
Engkau memerintahkan aku dengannya: ‘Sembahlah Allah, Pemelihara aku dan
Pemelihara kamu.’” (5:117)
Turut disebut di dalam Injil (dan Taurat) ialah berita
mengenai kedatangan seorang Nabi berbangsa Arab, atau ummiy (7:157), dan janji dikurniakan Taman atau Syurga bagi
orang-orang yang berperang di jalan Allah (9:111). Janji itu juga didapati di dalam Taurat dan
al-Qur’an.
Ketika baginda diutus, manusia sedang berselisih dalam
hal agama. Maka kedatangannya adalah juga untuk memperjelaskan apa yang
diperselisihkan. Firman Allah:
“dia (Isa) berkata, ‘Aku datang kepada kamu dengan
kebijaksanaan, dan supaya aku memperjelaskan kepada kamu sebahagian apa yang
dalamnya kamu memperselisihkan; maka kamu takutilah Allah, dan taatlah
kepadaku.’” (43:63)
Baginda juga memberitahu tentang kedatangan seorang
rasul selepas baginda, yang namanya akan dipuji. Ayat yang mengisahkannya
berbunyi:
“Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku (Isa) rasul Allah
kepada kamu, mengesahkan Taurat yang sebelum aku, dan memberi berita gembira
dengan seorang rasul yang akan datang selepas aku, namanya ahmad
(dipuji).” (61:6)
Pengikut setia
Seperti Nabi atau Rasul yang lain, baginda mempunyai
pengikut-pengikut yang setia dan juga yang tidak setia atau yang menentang.
Pengikut-pengikutnya yang setia percaya kepada Allah dan kepadanya. Mereka
adalah muslim. Firman Allah:
“Dan ketika Aku mewahyukan pengikut-pengikut yang
setia, ‘Percayalah kepada-Ku, dan rasul-Ku’; mereka berkata, ‘Kami percaya, dan
saksilah Engkau akan kemusliman kami.’” (5:111)
Pengikut-pengikut yang setia pula menjadi
penolong-penolong, bukan baginya tetapi bagi Allah. Firman-Nya:
“Berkatalah pengikut-pengikutnya yang setia, ‘Kami
akan menjadi penolong-penolong Allah; kami percaya kepada Allah, dan saksilah
kamu akan kemusliman kami.’” (3:52)
Begitu juga bagi pengikut-pengikut setia Nabi-Nabi
lain, termasuk Muhammad. Semuanya menjadi penolong-penolong Allah, untuk
melaksana dan menyampaikan mesej-Nya. Firman Allah:
“Wahai orang-orang yang percaya, jadilah kamu
penolong-penolong Allah, sebagaimana Isa putera Mariam berkata kepada
pengikut-pengikut yang setia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolong aku
bagi Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia berkata, ‘Kami akan menjadi
penolong-penolong Allah.’” (61:14)
Walau bagaimana pun, pengikut-pengikut Nabi Isa yang
setia memerlukan bukti selanjut untuk megesahkan kebenarannya dan supaya hati
mereka menjadi tenteram. Untuk itu mereka memohon sebuah meja hidangan dari
langit. Kisahnya berbunyi begini:
“Dan apabila pengikut-pengikut yang setia berkata,
‘Wahai Isa putera Mariam, bolehkah Pemelihara kamu menurunkan kepada kami
sebuah meja hidangan dari langit?’
Dia (Isa) berkata, ‘Kamu takutilah Allah, jika kamu
orang-orang mukmin.’
Mereka berkata, ‘Kami menghendaki untuk memakan
daripadanya, dan hati kami menjadi tenteram, supaya kami mengetahui bahawa kamu
berkata benar kepada kami, dan supaya kami adalah antara para saksinya.’”
(5:112-113)
Justeru itu, baginda memohon kepada Allah,
“Ya Allah, Pemelihara kami, turunkanlah kepada kami
sebuah meja hidangan dari langit, yang akan menjadi bagi kami satu perayaan,
yang pertama dan yang akhir bagi kami, dan satu ayat (tanda) daripada Engkau.
Dan berilah rezeki untuk kami; Engkau yang terbaik daripada pemberi-pemberi
rezeki.” (5:114)
Allah mengabulkan permintaannya. Lantas, meja hidangan
yang turun menjadi satu lagi mukjizat bagi Nabi Isa. Dan ia juga menjadi nama
sebuah surah di dalam al-Qur’an, iaitu surah kelima, al-Maidah.
Mukjizat
Selain daripada kelahiran yang luar biasa dan meja
hidangan, Nabi Isa telah dikurniakan dengan beberapa mukjizat lain. Ayat
berikut menjelaskannya:
“Ketika Allah berkata, ‘Wahai Isa putera Mariam,
ingatlah akan rahmat-Ku ke atas kamu, dan ke atas ibu kamu, apabila Aku mengukuhkan
kamu dengan Roh Qudus (Suci), untuk berkata-kata kepada manusia di dalam
buaian dan setelah dewasa ….. dan apabila kamu mencipta daripada tanah liat,
dengan izin-Ku, yang seperti bentuk burung, dan kamu menghembuskan ke dalamnya,
lalu jadilah ia seekor burung, dengan izin-Ku, dan kamu menyembuhkan orang
buta, dan orang sakit kusta, dengan izin-Ku, dan kamu mengeluarkan
orang yang mati, dengan izin-Ku’ ….. lalu orang-orang yang tidak percaya
antara mereka berkata, ‘Tiadalah ini, melainkan sihir yang nyata.’” (5:110)
Walaupun Nabi Muhammad hanya diberi satu mukjizat,
manusia ditegah daripada berkata bahawa Nabi Isa adalah lebih mulia daripada
Nabi Muhammad. Kerana, seperti yang sudah maklum, amalan membeza-beza para Nabi
dan Rasul dilarang Allah.
Diangkat Ke langit
“Apabila Allah berkata, ‘Wahai Isa, Aku akan mematikankamu, dan menaikkan kamu kepada-Ku, dan Aku membersihkan kamu daripada
orang-orang yang tidak percaya …..’” (3:55)
“Dan aku (Isa) seorang saksi ke atas mereka selama aku
di kalangan mereka; tetapi setelah Engkau mematikanaku, Engkau Sendiri
adalah penjaga ke atas mereka; Engkau saksi atas segala sesuatu.” (5:117)
Akan tetapi, sebahagian daripada kaum Bani Israil
mengatakan bahawa mereka telah membunuhnya disalib. Allah mengatakan yang sebaliknya
pula. Apa yang berlaku hanya satu kesamaan sahaja. Firman-Nya:
“ucapan mereka, ‘Kami telah membunuh al-Masih, Isa
putera Mariam, rasul Allah.’ Tetapi mereka tidak membunuhnya, dan tidak juga
menyalibnya, tetapi hanya satu kesamaan yang ditunjukkan kepada mereka.
Orang-orang yang berselisih mengenainya benar-benar dalam keraguan terhadapnya;
mereka tidak ada pengetahuan mengenainya, kecuali mengikuti sangkaan; mereka
tidak membunuhnya, yakinlah.” (4:157)
Di akhir zaman nabi ‘isa akan turun kembali ke bumi,
bukan sebagai nabi tapi sebagai umat nabi muhammad SAW. (mengikut syariat nabi
muhammad). akan berdakwah mengajak orang2 kristen untuk islam, menghancurkan
sali-salib, membunuh dajjal.